GLS Dukung Pengmas Universitas Airlangga untuk Pelestarian Pangan Lokal Papua Barat Daya

Papua Barat Daya dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan hayati yang luar biasa. Tanahnya yang subur serta hutan dan rawa yang melimpah menyediakan beragam jenis tanaman pangan yang tumbuh alami. Namun, di balik kelimpahan tersebut, wilayah ini masih menghadapi tantangan yang besar, yaitu angka stunting yang bertahan di kisaran 30%, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Kesenjangan antara potensi alam dan pemenuhan gizi harian masyarakat inilah yang mendorong lahirnya sebuah program pengabdian masyarakat yang diprakarsai oleh Universitas Airlangga (UNAIR). Program ini melibatkan kolaborasi erat dengan Komunitas Sinagi Papua dan mendapat dukungan teknis dari GLS, yang turut berperan dalam perancangan pendekatan edukatif dan pemberdayaan komunitas.
Mengangkat Kembali Pangan Lokal sebagai Solusi Gizi
Selama beberapa dekade, pola konsumsi di Papua Barat Daya mengalami pergeseran. Makanan pokok seperti sagu, kasbi, keladi, dan pisang hutan perlahan tergantikan oleh beras, mie instan, dan pangan olahan yang minim akan kandungan gizi. Perubahan ini berdampak langsung pada kesehatan anak-anak, terutama pada masa pertumbuhan.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, UNAIR bersama Sinagi Papua dan GLS berupaya menghidupkan kembali pengetahuan pangan lokal sebagai langkah strategis untuk memperbaiki gizi keluarga. Pendekatan yang digunakan bukan hanya ilmiah, tetapi juga berbasis kearifan lokal sehingga relevan dengan konteks masyarakat.
Salah satu anggota tim pengabdian menyampaikan bahwa potensi pangan Papua Barat Daya “sebenarnya sangat besar, namun belum tergarap secara optimal. Tantangannya adalah bagaimana menjembatani pengetahuan akademik dengan praktik keseharian masyarakat.” Melalui program ini, upaya tersebut akan mulai terlihat.
Belajar dari Lapangan: Menyusuri dan Mengolah Tanaman Bergizi
Langkah awal program dimulai dengan survei dan pendokumentasian tanaman lokal di Distrik Aimas dan Klayili. Banyak tanaman yang sebelumnya dianggap biasa atau sekadar tumbuhan pekarangan ternyata memiliki kandungan nutrisi penting, seperti krokot (kaya omega 3), kelor (tinggi zat besi), hingga aneka pisang lokal yang berpotensi menjadi pangan alternatif.
Temuan lapangan tersebut menjadi dasar pelatihan yang diberikan kepada mama-mama Papua, pemuda, dan kelompok masyarakat lainnya. Dalam kegiatan yang dilaksanakan 13 September 2025, peserta belajar membuat olahan pangan bergizi seperti tortilla, bolu pisang, dan kerupuk.

Antusiasme masyarakat meningkat signifikan, dari belasan peserta di awal meningkat menjadi lebih dua kali lipat. Banyak mama-mama yang mulai merintis usaha kecil berbasis pangan lokal dari rumah masing-masing. Peran GLS dalam hal ini adalah mendukung penyusunan modul, metode pelatihan, dan pendampingan berkelanjutan agar keterampilan yang diperoleh masyarakat bisa terus digunakan setelah program berakhir.
Edukasi Gizi untuk Anak Sekolah: Menumbuhkan Kesadaran Sejak Dini
Program kemudian berlanjut ke salah satu sekolah, yaitu SD YPK Maranatha Malagubtuk, sekolah binaan Komunitas Sinagi Papua. Sebanyak 37 murid terlibat dalam kegiatan edukasi interaktif, mulai dari permainan gizi, meramban tanaman liar bergizi, hingga memasak sederhana menggunakan bahan pangan lokal.

Pendekatan edukatif yang digunakan bersifat visual, aktif dan mudah dipahami anak. GLS turut membantu merancang aktivitas pembelajaran sehingga anak-anak tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga memahami alasan pentingnya makanan bergizi. Hasilnya, banyak anak yang mulai mendorong perubahan kebiasaan makan di tingkat keluarga.
Food-Lab Sinagi Papua: Ruang Inovasi untuk Kemandirian Pangan
Salah satu capaian besar dari program ini adalah terbentuknya Food-Lab di Kampung Klatomok. Food-Lab ini menjadi ruang eksperimen masyarakat untuk mengembangkan aneka produk turunan berbasis pangan lokal, seperti tepung pisang, tepung kasbi, hingga sagu.
GLS mendukung penyusunan kurikulum pelatihan dan memberikan masukan teknis terkait pendekatan ekonomi sirkular dan pengembangan produk. Kehadiran Food-Lab membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan nilai tambah ekonomi dari bahan pangan yang selama ini kurang dimanfaatkan.

Lebih dari itu, Food-Lab juga memperkuat rasa bangga masyarakat terhadap identitas kuliner mereka sendiri, yakni bahwa pangan lokal bukan hanya sehat, tetapi juga bernilai dan dapat menjadi sumber kesejahteraan.
Dampak Program: Dari Perubahan Konsumsi hingga Pemberdayaan Ekonomi
Kolaborasi antara UNAIR, Sinagi Papua, dan GLS menghasilkan sejumlah perubahan signifikan, antara lain:
- Peningkatan kesadaran gizi, terutama terkait pangan lokal yang sebelumnya kurang dihargai.
- Keterampilan baru bagi mama-mama Papua, yang kini mampu memproduksi pangan lokal bernilai ekonomi.
- Kemunculan kelompok usaha kecil, seperti kelompok “Kaban Fanagles” yang mulai membuat produk tepung lokal secara mandiri.
- Pelestarian pengetahuan tradisional, melalui dokumentasi resep dan teknik pengolahan yang diwariskan antar generasi.
- Luaran akademik dan publikasi, termasuk artikel ilmiah, publikasi media, dan dokumentasi kegiatan.
Menuju Kemandirian Pangan Papua Barat Daya
Program ini menunjukan bahwa solusi gizi tidak harus selalu datang dari luar. Justru, kekuatan terbesar ada pada masyarakat itu sendiri, pada sumber daya alam, pengetahuan lokal, dan kemauan untuk belajar serta berinovasi.
Dengan dukungan UNAIR, kerja komunitas Sinagi Papua, dan pendampingan GLS, masyarakat Papua Barat Daya kini mulai melangkah menuju kemandirian pangan yang lebih kokoh dan berkelanjutan. Dari kebun, dapur, hingga ruang kelas, benih-benih perubahan telah ditanam dan mulai tumbuh.
Melalui pendekatan kolaboratif, pangan lokal tidak lagi sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi bagian dari masa depan yang lebih sehat, mandiri, dan penuh harapan.
Penulis: WP, Tim Green Living Support


