Green Living vs Nostalgia: Kenapa Kebiasaan Nenek Kita Sekarang Disebut “Sustainable”?
Pernah nggak kamu ngobrol dengan nenek atau ibu, terus mereka cerita, “Dulu tuh kalau beli lauk, nenek/ibu selalu bawa rantang dari rumah.” Atau, “Kalau ada barang yang rusak? Ya diperbaiki, bukannya dibuang.” Kalau didengerin sekarang, itu semua kedengarannya persis kayak tips-tips zero waste yang sering kita dengar.
Tapi coba tanya balik ke mereka, “Jadi bisa dibilang dulu itu nenek/ibu niatnya biar ramah lingkungan ya?”
Jawaban mereka pasti rata-rata “Enggak juga tuh, karena dulu ya memang begitu hidupnya. Nggak ada niat sampe mau ramah lingkungan.”

Nah, dari situ kita bisa lihat ada dua hal yang sebenarnya beda jauh: gaya hidup green living yang kita kenal sekarang, dan kebiasaan jaman dulu yang ternyata “kebetulan” ramah lingkungan. Yuk kita bedah satu-satu.
Bawa Rantang: Bukan Gaya, Tapi Emang Nggak Ada Plastik
Sekarang bawa rantang atau tumbler itu dianggap keren, bahkan jadi identitas anak yang peduli lingkungan. Tapi dulu, orang bawa rantang karena memang belum ada budaya bungkus plastik sekali pakai kayak sekarang. Rantang itu ya alat makan sehari-hari, bukan simbol gaya hidup.
Bedanya di mana? Sekarang kita memilih untuk bawa rantang di tengah banyaknya pilihan plastik. Dulu, rantang itu satu-satunya pilihan yang masuk akal.
Memperbaiki Barang Rusam: Karena Barang Itu Mahal, Bukan Karena Sadar Lingkungan
Zaman dulu, barang rusak itu dibawa ke tukang servis, bukan langsung dibuang. Payung bocor, sol sepatu lepas, kompor mati, sampai radio busuk pun semua ada tukangnya. Alasannya sederhana: barang itu susah dan mahal untuk beli baru.
Sekarang, kita mulai balik lagi ke kebiasaan itu, tapi dengan bungkus yang beda: “budaya reparasi” atau repair culture, bagian dari gerakan mengurangi sampah. Niatnya udah beda, walau tindakannya mirip.

Menjahit Baju: Skill Wajib, Bukan Hobi Kekinian
Dulu, hampir semua rumah punya mesin jahit atau minimal ada banyak benang dan jarum jahit. Baju robek dijahit lagi, kekecilan diobras, kedodoran dipermak. Ini bukan soal kreativitas doang, tapi karena beli baju baru itu bukan hal yang gampang dilakuin tiap saat.
Sekarang, menjahit baju lama justru jadi tren namanya upcycling fashion. Anak muda bangga memperlihatkan baju hasil jahit ulang di sosial media. Padahal nenek kita dulu ngerjain hal yang sama, cuma nggak ada yang nge-posting-nya.
Menyimpan Toples Bekas: Insting Hemat, Bukan Insting Ramah Lingkungan
Toples bekas jajan, kaleng biskuit, botol kecap semua disimpan, dicuci, dipakai ulang buat naruh gula, kopi, atau bumbu dapur. Ini kebiasaan yang hampir ada di setiap rumah tangga jaman dulu.
Alasannya lagi-lagi bukan hanya soal lingkungan, tapi soal hemat. Barang bagus sayang dibuang. Tapi efeknya sama persis dengan apa yang sekarang kita sebut reuse, salah satu prinsip utama dalam gaya hidup berkelanjutan.

Jadi, Apa Bedanya Green Living Sekarang Sama Kebiasaan Dulu?
Intinya ada di niat dan kesadaran. Dulu, orang hidup hemat dan hati-hati sama barang karena rata-rata keadaan yang memang mengharuskan begitu bukan karena semua orang memikirkan bumi. Sekarang, kita melakukan hal yang mirip, tapi dengan kesadaran yang lebih penuh bahwa ini soal menjaga lingkungan, bukan sekadar soal hemat uang.
Menariknya, ini justru nunjukkin sesuatu yang bagus: kita nggak perlu nemuin hal baru untuk hidup lebih ramah lingkungan. Kadang, jawabannya udah ada, tinggal kita lihat lagi ke belakang ke kebiasaan orang tua atau kakek nenek kita.
Jadi, lain kali kalau ada yang bilang bawa rantang itu “kekinian banget”, boleh deh diingetin pelan-pelan: itu bukan tren baru, itu cuma kebiasaan lama yang akhirnya dapat nama baru.
Penulis: Yuro Ida Tri Murti, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
















