Kertas Skripsi yang Berakhir di Tong Sampah: Drama Kecil yang Sering Kita Lupakan
Pernah nggak sih, kamu print revisi skripsi buat kesekian kalinya, terus pas dosen bilang “ini bagian ini diganti ya”, langsung deh satu bab utuh berakhir di tong sampah? Kalau iya, selamat, kamu bukan sendirian. Hampir semua mahasiswa tingkat akhir pasti punya cerita yang sama: kertas menumpuk, tinta menipis, dan dompet ikut menjerit. Tapi coba deh kita mundur sedikit dan lihat gambaran yang lebih besar. Satu lembar kertas yang kita anggap “cuma salah ketik doang” itu sebenarnya punya jejak panjang di belakangnya. Mulai dari pohon yang ditebang, air dan energi yang dipakai buat produksi, sampai proses pengiriman ke toko. Semua proses itu nggak murah buat bumi kita, walau di kantong kita cuma keluar recehan buat beli satu rim.

Kenapa Kertas Skripsi Jadi “Korban Utama”?
Skripsi itu unik. Beda sama tugas kuliah biasa yang sekali print langsung jadi, skripsi punya siklus revisi yang panjang banget. Bab 1 direvisi, print lagi. Bab 2 revisi lagi, print lagi. Belum lagi kalau dosen pembimbingnya lebih dari satu dan masing-masing punya “selera” berbeda soal format, margin, sampai jenis font.

Hasilnya? Satu mahasiswa bisa print skripsi utuh sampai 5-10 kali sebelum akhirnya di-ACC. Kalau dikalikan dengan jumlah mahasiswa yang sidang tiap semester di satu kampus saja, bayangkan berapa rim kertas yang berakhir jadi sampah.
Sampah Kertas, Dampaknya Nggak Sekecil yang Dikira
Banyak yang mengira kertas itu “ramah lingkungan” karena bisa didaur ulang. Memang benar, tapi masalahnya nggak semua kertas berakhir di tempat yang tepat. Kertas yang bercampur dengan sampah lain, atau yang sudah kena tinta print dan staples, sering kali malah berakhir di TPA dan butuh waktu lama buat terurai.
Selain itu, proses produksi kertas baru itu tetap menyumbang emisi karbon dan konsumsi air yang besar. Jadi walau satu lembar kertas kelihatan sepele, kalau dikalikan dengan kebiasaan print-buang yang terus berulang setiap semester, dampaknya jadi nggak sepele lagi.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Tenang, bukan berarti kita harus berhenti nulis skripsi ya. Ada beberapa hal kecil yang bisa mulai dicoba:
- Print draft di kertas bekas
Sisi yang masih kosong dari kertas yang sudah pernah dipakai bisa banget dipakai buat draft sebelum revisi final. - Manfaatkan review digital
Banyak dosen sekarang terbuka untuk kirim draft lewat PDF dan kasih komentar digital, jadi print baru dilakukan kalau memang sudah mendekati final. - Kumpulkan kertas bekas untuk didaur ulang
Daripada dibuang begitu saja, kertas skripsi yang sudah tidak terpakai bisa dikumpulkan dan disetor ke bank sampah atau program daur ulang kampus.

Langkah Kecil, Dampak Besar
Kita nggak perlu langsung jadi “environmentalist garis keras” buat mulai peduli sama isu ini. Cukup dengan sadar bahwa setiap lembar kertas punya cerita di baliknya, dan mulai membiasakan diri buat lebih bijak saat print, itu sudah jadi langkah awal yang berarti.
Jadi, lain kali kamu mau nge-print revisi skripsi, coba tanya ke diri sendiri dulu: ini beneran udah final, atau masih bisa dicek dulu di layar laptop?
Penulis: Yuro Ida Tri Murti, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung


