Aksi Nyata Jelang Kemerdekaan: GLS Kawal Pencanangan “BKHIT Jatim Free From Plastic Bottle”

SIDOARJO – Sebuah inisiatif lingkungan yang inspiratif sukses digelar di halaman kantor Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur pada hari ini, Kamis, 13 Agustus 2026. Menjadi bagian dari rangkaian kemeriahan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, BKHIT Jawa Timur secara resmi mencanangkan gerakan “BKHIT Jatim Free From Plastic Bottle”. Memenuhi undangan resmi dari BKHIT Jawa Timur, Green Living Support (GLS) turut hadir mengawal momen bersejarah ini. Mewakili GLS, Bapak Rumayya selaku Vice Director sekaligus Dosen Universitas Airlangga (UNAIR) hadir langsung sebagai narasumber utama untuk memberikan edukasi mengenai bahaya sampah plastik bagi kelestarian ekosistem.

Vice Director GLS, Rumayya (kanan), berjabat tangan dengan Plt Kepala BKHIT Jawa Timur, Hudiansyah Is Nursal (kiri), dalam acara pencanangan komitmen bebas botol plastik di lingkungan kantor BKHIT Jawa Timur.

Fakta Mengejutkan di Balik Sampah Plastik Sidoarjo

Dalam pemaparannya, Bapak Rumayya membuka mata para peserta dengan menyajikan data yang terjadi setiap hari di wilayah Sidoarjo, yang merupakan realita di tempat kita berdiri saat ini. Beliau memaparkan poin-poin kritis berikut:

  • Sidoarjo menghasilkan beban harian sampah sebesar 892 ton, yang setara dengan 150 truk sampah skala penuh.
  • Dari jumlah tersebut, diasumsikan terdapat sekitar 700 ribu botol plastik terbuang dalam waktu 24 jam. Jika disejajarkan ke atas, tumpukan botol ini akan melampaui 1.000 kali tinggi Monumen Nasional (Monas).
  • Sebanyak 86 ton (atau setara 14 truk) sampah bocor dan dibuang di tempat yang tidak semestinya setiap hari sehingga mencemari lingkungan.
  • Permasalahan ini dimulai jauh sebelum sampah tiba di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), di mana 77% sampah yang masuk masih dalam kondisi tercampur dan belum dipilah sama sekali.

Bapak Rumayya juga menegaskan bahwa mengandalkan proses daur ulang saja tidak akan pernah cukup. Fakta global menunjukkan hanya 9% plastik yang benar-benar berhasil didaur ulang, sementara sisanya berakhir dibakar, ditimbun di TPA, atau bocor mencemari lingkungan.

Mendaur ulang adalah solusi semu, ibarat mengepel lantai saat rumah kebanjiran tanpa menghentikan sumber air.

Solusi nyata yang harus diambil adalah pencegahan langsung dari sumbernya, yaitu menutup keran konsumsi sepenuhnya. Sampah yang paling murah dan mudah ditangani adalah sampah yang sejak awal tidak pernah kita hasilkan.

Logika Karantina = Logika Pencegahan Sampah

Pesan edukasi ini menjadi sangat relevan ketika Bapak Rumayya menyelaraskan isu persampahan dengan tugas pokok BKHIT Jawa Timur. Beliau menyoroti bahwa logika karantina penyakit atau hama sejatinya sama persis dengan logika pencegahan sampah plastik.

  • Karantina berfokus pada pencegahan sebelum sebuah ancaman biologis masuk ke suatu wilayah demi melindungi ekosistem.
  • Hal ini sejalan dengan penanganan sampah yang seharusnya berfokus pada pencegahan sebelum material tersebut menjadi sampah, yakni dengan menutup akses konsumsi demi bumi yang lestari.

Langkah Kecil untuk Bumi yang Lestari

Acara yang mengusung tema “Langkah Kecil Hari Ini, Bumi Lestari untuk Generasi Nanti” ini dikemas secara sangat unik. Berbeda dengan acara instansi pada umumnya, pencanangan ini dilakukan secara spontan dan non-protokoler tepat setelah rangkaian perlombaan khas 17 Agustusan usai.

Keputusan BKHIT Jawa Timur untuk meniadakan penggunaan botol plastik sekali pakai ini sangat selaras dengan tugas pokok dan fungsi instansi. Sebagai unit pelaksana teknis yang menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan hayati (biosecurity) serta melindungi sumber daya alam Indonesia dari ancaman hama penyakit, BKHIT menyadari bahwa kesehatan ekosistem adalah prasyarat mutlak bagi keberhasilan mandat karantina.

Puncak acara ditandai dengan deklarasi tegas dari Plt Kepala BKHIT Jawa Timur, Bapak Hudiansyah Is Nursal. Di hadapan seluruh pegawai yang berkumpul, beliau menyampaikan komitmen institusi secara langsung:

Pada hari ini, Kamis 13 Agustus 2026, kami segenap keluarga besar Balai Karantina Ikan, Hewan, dan Tumbuhan Jawa Timur menyatakan mulai hari ini kantor kita bebas dari penggunaan botol plastik sekali pakai.

Bapak Rumayya dan Bapak Hudiansyah Is Nursal menunjukkan tumbler sebagai simbol dimulainya budaya kerja baru yang bebas dari sampah botol plastik sekali pakai di BKHIT Jawa Timur.

Edukasi dan Aksi Bersih-Bersih Serentak

Meski hanya berlangsung singkat selama kurang lebih 30 menit, rangkaian acara ini memberikan impact yang sangat besar. Setelah pemaparan edukasi dari Bapak Rumayya mengenai bahaya mikroplastik bagi lingkungan, acara dilanjutkan dengan penyerahan tumbler secara simbolis kepada perwakilan pegawai.

Tidak berhenti pada sekadar seremoni, komitmen ini langsung dieksekusi detik itu juga. Seluruh pegawai BKHIT Jawa Timur bergerak melakukan aksi bersih-bersih dengan mengumpulkan botol plastik sekali pakai dari meja dan ruang kerja masing-masing untuk dibuang ke wadah khusus yang telah disiapkan di titik kumpul. Sebagai solusi jangka panjang, pihak balai juga telah menyediakan fasilitas galon air minum isi ulang di berbagai titik strategis kantor.

Green Living Support (GLS) memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada BKHIT Jawa Timur atas inisiatif luar biasa ini. Kami meyakini bahwa keteladanan yang dimulai dari dalam lingkungan kerja instansi pemerintah akan menjadi katalisator kuat bagi perubahan perilaku masyarakat luas.

Mari bersama-sama wujudkan budaya kerja yang lebih hijau dan berkelanjutan!