Mengenal Desa Kuripansari: Ruang Hidup dan Cerita Pengabdian Masyarakat

Desa Kuripansari merupakan salah satu desa di Kabupaten Mojokerto yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi ruang belajar bersama bagi GLS. Melalui berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, GLS tidak hanya hadir membawa program, tetapi juga berupaya memahami desa ini sebagai ruang hidup dengan dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan yang khas.
Memahami Desa Kuripansari berarti memahami keseharian warganya, bagaimana mereka tinggal, bekerja, berinteraksi, serta menghadapi berbagai keterbatasan dan peluang yang ada. Inilah yang menjadi dasar mengapa pendekatan pengabdian GLS di Kuripansari selalu diawali dengan pemetaan sosial dan dialog dengan warga.
Struktur Wilayah dan Pusat Aktivitas Desa
Secara administratif, Desa Kuripansari terbagi ke dalam enam dusun, yaitu Dusun Sumbergayam, Kandangan, Kedungpeluk, Warubinatur, Kuripan, dan Panjunan. Batas antar dusun umumnya dipahami warga melalui penanda alami dan fungsional seperti area persawahan dan jalan raya. Pola ini membuat batas wilayah terasa cair, namun tetap jelas dalam praktik sehari-hari.
Dusun Sumbergayam dikenal sebagai pusat aktivitas desa. Di wilayah inilah Balai Desa Kuripansari berada, sekaligus menjadi lokasi BUMDES, PKK, dan pusat kegiatan lainnya. Selain itu, Dusun Sumbergayam juga berdekatan dengan Dusun Warubinatur yang memiliki fasilitas pendidikan TK dan SD. Tak heran jika dusun ini menjadi wilayah paling ramai, baik untuk kegiatan administratif, pendidikan, maupun aktivitas sosial lainnya. Sebaliknya, Dusun Panjunan relatif sepi dan jarang penduduk, menjadikannya salah satu wilayah yang kerap luput dari perhatian program pembangunan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Dusun Kandangan menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Pertumbuhan jumlah penduduk dan munculnya berbagai usaha mikro dan UMKM membuat dusun ini semakin hidup, sekaligus menghadirkan tantangan baru terkait kepadatan dan kebutuhan layanan dasar.

Pola Permukiman dan Mobilitas Warga
Permukiman warga Desa Kuripansari cenderung mengelompok, dengan rumah-rumah yang saling berdekatan di setiap dusun. Tidak terdapat pemisahan wilayah yang jelas antara keluarga lama dan pendatang dengan kondisi sosial relatif menyebar dan membaur. Jumlah rumah kosong di desa ini sangat terbatas, begitu pula rumah yang hanya dihuni pada waktu tertentu.
Sebagian kecil warga Kuripansari memiliki pengalaman merantau, terutama ke Madura, meskipun jumlahnya tidak signifikan sekitar satu hingga dua kepala keluarga per dusun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar warga masih menggantungkan hidupnya pada aktivitas ekonomi lokal.
Kondisi Sosial dan Tingkat Kesejahteraan
Dalam keseharian, warga Kuripansari tidak secara formal mengelompokkan status sosial antar keluarga. Namun, terdapat pemahaman umum mengenai kondisi kesejahteraan yang terlihat dari ciri-ciri fisik dan ekonomi rumah tangga. Keluarga yang dianggap kurang mampu umumnya tinggal di rumah berbahan kayu atau gedek, tidak memiliki fasilitas sanitasi layak seperti WC, dan tidak memiliki pekerjaan tetap. Keluarga dengan kondisi cukup biasanya bekerja sebagai buruh tani, sementara keluarga yang dianggap mapan memiliki pekerjaan tetap dan kepemilikan aset atau barang bernilai.
Faktor yang paling memengaruhi kondisi hidup warga antara lain kepemilikan lahan, jenis pekerjaan, usaha sampingan, tingkat pendidikan, serta akses terhadap bantuan sosial. Menariknya, keluarga dengan kondisi ekonomi serupa tidak terkonsentrasi di satu wilayah tertentu, melainkan tersebar di seluruh dusun.
Kelompok Rentan dan Tantangan Akses
Desa Kuripansari juga memiliki kelompok-kelompok warga yang rentan, seperti keluarga dengan kepala rumah tangga perempuan, lansia yang hidup sendiri, keluarga dengan anggota difabel, serta keluarga yang bergantung pada bantuan. Kelompok-kelompok ini tersebar di berbagai dusun dan tidak selalu mudah terindentifikasi dalam program desa.
Akses terhadap bantuan bagi kelompok rentan tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa kasus, mereka justru berisiko terlewat karena keterbatasan informasi atau mekanisme pendataan. Dusun Panjuan menjadi salah satu wilayah yang dinilai membutuhkan perhatian khusus apabila ada program sosial atau pembangunan ke depan.
Fasilitas Desa dan Kebutuhan Warga
Bagi warga Kuripansari, fasilitas yang dianggap penting adalah jalan usaha tani. Infrastruktur ini menjadi kunci akses ke lahan pertanian sekaligus penentu minat generasi muda untuk tetap terlibat di sektor pertanian. Di sisi lain, fasilitas pendidikan lanjutan seperi SMP dan SMA tidak tersedia di desa, sehingga warga harus mengaksesnya ke wilayah lain.
Ketersediaan pasar atau ruang ekonomi seperti pasang desa dan pusat jajanan juga menjadi kebutuhan penting, terutama untuk mendukung aktivitas ekonomi warga. Namun, beberapa fasilitas seperti BUMDes dinilai belum berjalan optimal dan masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan.
Desa yang Terus Bergerak
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah rumah tangga di Desa Kuripansari cenderung meningkat. Meski tidak terjadi perubahan signifikan pada mata pencaharian utama warga, dinamika sosial terus bergerak seiring bertambahnya penduduk, berkembangnya UMKM, serta munculnya isu-isu sosial yang kerap menjadi perbincangan warga. Perubahan ini menunjukkan bahwa Desa Kuripansari bukan desa yang stagnan, melainkan desa yang terus beradaptasi dengan tantangan dan peluang zaman.
Kuripansari dan Jejak Pengabdian GLS
Selama dua tahun terakhir, Desa Kuripansari menjadi lokasi penting bagi berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh GLS. Pada tahun 2023, GLS berkolaborasi dengan Universitas Airlangga, Pemerintah Desa Kuripansari, dan Komunitas Lets Grow dalam program Pengabdian Masyarakat Program Pengembangan Desa Binaan (PPDB) yang berfokus pada pengenalan tumbuhan liar superfood.
Kolaborasi ini berlanjut pada 2024 melalui program PPDB tahun kedua dengan fokus yang diperkuat pada aspek edukasi dan desa wisata. Di tahun 2025, GLS juga melaksanakan proyek Direct Aid Program (DAP) dengan dukungan pendanaan dari DFAT melalui Konsulat Jenderal Australia. Program ini berfokus pada pengembangan circular food garden di SDN Kuripansari, menjadikan sekolah sebagai ruang pembelajaran pangan sirkular sejak dini.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Kuripansari tidak hanya menjadi lokasi program, tetapi juga mitra belajar bagi GLS. Desa ini memperlihatkan bagaimana isu lingkungan, pangan, pendidikan, dan kesejahteraan saling terkait dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa.
Penutup
Mengenal Desa Kuripansari berarti memahami bahwa pengabdian masyarakat tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial yang kompleks. Setiap dusun memiliki cerita, setiap warga memiliki pengalaman, dan setiap program membutuhkan pendekatan yang peka terhadap realitas lokal.
Bagi GLS, Kuripansari adalah contoh nyata bagaimana kerja-kerja pengabdian dapat tumbuh dari relasi jangka panjang, bukan intervensi sesaat. Ke depan, desa ini akan terus menjadi ruang kolaborasi, pembelajaran, dan penguatan praktik keberlanjutan berbasis komunitas.
Penulis: Wisnu Purnomo, Tim Riset Green Living Support


