Sekolah di Tengah Cuaca Ekstrem: Ruang Aman Anak yang Perlu Diperkuat

Memasuki akhir Januari 2026, peringatan cuaca ekstrem kembali dikeluarkan untuk hampir seluruh wilayah Jawa Timur. Hujan lebat, angin kencang, hingga potensi banjir dan longsor diprediksi masih akan terus terjadi dalam beberapa hari ke depan. Di tengah dinamika atmosfer yang kian tidak menentu, satu pertanyaan penting muncul: sejauh mana sekolah kita siap melindungi anak-anak di tengah cuaca ekstrem?
Bagi GLS, isu ini bukan sekadar soal cuaca, melainkan juga soal keselamatan, keberlanjutan pendidikan, dan perlindungan anak terutama di wilayah-wilayah yang secara geografis dan sosial lebih rentan.
Cuaca Ekstrem dan Realitas Sekolah di Jawa Timur
Berdasarkan peringatan BMKG, kombinasi Monsun Asia, gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO), gangguan Equatorial Rossby, hingga suhu muka laut yang hangat di sekitar Jawa Timur menciptakan kondisi atmosfer yang sangat labil. Dampaknya tidak hanya berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, tetapi juga angin kencang, petir, hingga hujan es di beberapa wilayah.
Kabupaten dan kota seperti Mojokerto, Malang, Jember, Lumajang, Pacitan, Trenggalek, Bondowoso, hingga wilayah Madura masuk dalam daftar daerah yang diminta meningkatkan kewaspadaan. Di wilayah-wilayah ini, banyak sekolah berdiri berdekatan dengan sungai, lereng perbukitan, atau akses jalan yang rawan licin dan tergenang.
Dalam kondisi seperti ini, sekolah sering kali berada di posisi dilematis. Di satu sisi, sekolah adalah ruang belajar yang harus terus berjalan. Di sisi lain, keselamatan siswa dan guru menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Anak Sekolah sebagai Kelompok Rentan
Anak-anak adalah kelompok yang paling terdampak dalam situasi cuaca ekstrem. Jalan menuju sekolah yang licin, genangan air di halaman sekolah, pohon tumbang, hingga atap bangunan yang tidak kokoh menjadi risiko nyata yang mereka hadapi setiap hari.
Di banyak sekolah dasar, terutama di wilayah semi-rural dan pedesaan Jawa Timur, kesiapsiagaan terhadap bencana hidrometeorologi masih sangat terbatas. Prosedur evakuasi belum dipahami dengan baik, akses informasi cuaca masih bergantung pada kabar dari mulut ke mulut, dan integrasi isu cuaca ekstrem ke dalam kegiatan belajar belum menjadi kebiasaan.
Padahal, perubahan iklim membuat cuaca ekstrem bukan lagi peristiwa langka, melainkan realitas baru yang harus dihadapi bersama.
Peran Sekolah: Lebih dari Sekadar Tempat Belajar
Dalam konteks ini, sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat transfer pengetahuan akademik. Sekolah perlu diposisikan sebagai ruang aman, ruang adaptasi, dan ruang pembelajaran hidup.
Sekolah memiliki peran strategis untuk:
- menjadi pusat literasi iklim dan kebencanaan bagi anak,
- membangun kebiasaan siaga bencana sejak dini,
- dan menghubungkan pengetahuan cuaca dengan kehidupan sehari-hari anak.
Pengalaman GLS di berbagai sekolah, termasuk di Desa Kuripansari, Mojokerto, menunjukkan bahwa anak-anak justru sangat responsif ketika diajak memahami lingkungan secara langsung. Ketika mereka belajar mengenali hujan, tanah, tanaman, dan siklus alam, kesadaran terhadap risiko juga tumbuh secara alami.

Adaptasi Sederhana yang Berdampak Besar
Menghadapi cuaca ekstrem tidak selalu harus dimulai dari teknologi canggih. Di tingkat sekolah, langkah-langkah sederhana bisa memberi dampak besar. Mulai dari memastikan saluran air sekolah tidak tersumbat, penataan pohon agar tidak membahayakan, hingga penyusunan jalur evakuasi yang mudah dipahami anak-anak.
Lebih jauh, sekolah juga bisa menjadi ruang edukasi adaptasi iklim melalui kegiatan praktik. Kebun sekolah, pengelolaan air hujan, pengomposan, hingga pemanfaatan ruang hijau dapat menjadi media belajar sekaligus strategi mitigasi risiko lingkungan.
Pendekatan inilah yang selama ini didorong GLS: menghubungkan pendidikan, lingkungan, dan ketahanan sejak usia dini.
Menuju Sekolah yang Tangguh Iklim
Cuaca ekstrem di Jawa Timur hari ini adalah pengingat bahwa sistem pendidikan perlu beradaptasi dengan cepat. Ketahanan tidak hanya diukur dari bangunan fisik, tetapi juga dari kesiapan pengetahuan, sikap, dan kebiasaan.
Sekolah yang tangguh iklim adalah sekolah yang:
- peka terhadap perubahan cuaca,
- adaptif terhadap risiko lingkungan,
- dan menempatkan keselamatan serta kesejahteraan anak sebagai prioritas utama.
Di tengah hujan lebat dan angin kencang, sekolah justru memiliki peluang besar untuk menjadi ruang pembelajaran paling relevan bagi anak-anak: belajar tentang alam, risiko, dan cara hidup berdampingan dengan perubahan.
Bagi GLS, menjaga anak sekolah di tengah cuaca ekstrem bukan hanya soal respons darurat, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun generasi yang lebih sadar lingkungan, lebih tangguh, dan lebih siap menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti.


