Ketika MBG Menyisakan Limbah: Saatnya Sekolah Mengolah, Bukan Membuang

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah menjadi langkah besar dalam memperkuat ketahanan pangan dan gizi anak sekolah di Indonesia. Banyak sekolah kini menerima distribusi makanan setiap hari, memastikan anak-anak mendapatkan asupan nutrisi yang lebih baik.

Namun di balik program yang baik ini, ada satu pertanyaan penting yang mulai muncul:

Bagaimana jika makanan itu tersisa?

Sisa nasi, sayur, lauk, kulit buah, tulang ayam, hingga kemasan jika tidak dikelola dengan baik maka bisa berpotensi menjadi timbunan sampah baru di sekolah. Dalam skala nasional, jumlahnya bisa sangat besar.

Di sinilah pendekatan keberlanjutan menjadi penting.

Limbah MBG: Masalah atau Peluang?

Setiap aktivitas konsumsi pasti menghasilkan residu. Di sekolah, sisa MBG biasanya terdiri dari:

  • Limbah organik: nasi sisa, sayur, lauk, tulang, kulit buah
  • Limbah anorganik: plastik pembungkus, sendok sekali pakai, kemasan

Jika semua ini berakhir di tempat sampah dan langsung dibawa ke TPA, maka sekolah secara tidak langsung ikut menyumbang beban lingkungan.

Namun jika dikelola dengan pendekatan sirkular, limbah ini justru bisa menjadi media pembelajaran lingkungan yang sangat konkret.

  1. Mengolah Limbah Organik dengan Komposter Sekolah
    Sisa makanan organik sangat ideal untuk diolah menjadi kompos.
    Sekolah dapat:
    a. Membuat komposter sederhana dari ember bekas
    b. Menggunakan metode takakura atau biopori
    c. Mengintegrasikan dengan kebun sekolah

    Proses ini bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga:
    a. Mengajarkan siswa tentang siklus nutrisi
    b. Menghubungkan konsumsi dan produksi pangan
    c. Membentuk kebiasaan memilah sejak dini

    Kompos yang dihasilkan dapat digunakan kembali untuk kebun sekolah. Siklusnya menjadi tertutup.
  2. Ayam Halaman sebagai Living Composter
    Pendekatan lain yang semakin relevan adalah penggunaan ayam sebagai living composter. Sisa nasi dan sayur dapat diberikan sebagai pakan tambahan ayam (tentu dengan seleksi yang aman). Kotoran ayam kemudian diolah menjadi pupuk. Ini menciptakan sistem:

    Makanan → Sisa → Ayam → Pupuk → Tanaman → Makanan

    Model seperti ini sudah mulai diterapkan dalam konsep Circular Food Garden, di mana sekolah menjadi ruang praktik ekonomi sirkular dalam skala kecil.
  3. Edukasi Zero Waste dalam Program MBG
    MBG bukan hanya soal makan bersama, tetapi bisa dikembangkan menjadi:
    a. Edukasi tentang food waste
    b. Kampanye “ambil secukupnya, habiskan yang diambil”
    c. Sistem piket pemilahan sampah
    d. Pengurangan alat makan sekali pakai

    Sekolah bisa menjadikan momen makan bersama sebagai ruang belajar karakter: tanggung jawab, disiplin, dan kesadaran lingkungan.
  4. Mengurangi Limbah Anorganik
    Selain sisa makanan, kemasan juga perlu perhatian. Beberapa langkah sederhana:
    a. Menggunakan wadah makan reusable
    b. Sistem cuci ulang dibanding sekali pakai
    c. Kerja sama dengan bank sampah sekolah

    Jika dikelola sejak awal, MBG bisa menjadi program gizi sekaligus program pengurangan sampah.

MBG dan Masa Depan Sekolah Berkelanjutan

Program MBG adalah peluang besar. Namun keberlanjutan program ini akan jauh lebih kuat jika diikuti dengan sistem pengelolaan limbah yang baik.

Sekolah dapat menjadi laboratorium hidup:

  • Belajar gizi
  • Belajar ketahanan pangan
  • Sekaligus belajar tanggung jawab ekologis

Di sinilah peran komunitas, guru, orang tua, dan mitra seperti GLS menjadi penting, yaitu membantu sekolah membangun sistem yang tidak hanya memberi makan anak, tetapi juga mendidik mereka menjadi generasi yang sadar lingkungan.

Karena makanan yang baik tidak berhenti di piring.
Ia harus kembali ke tanah dengan cara yang benar.

Penulis: Wisnu Purnomo, Research & Evidence Manager