Cegah Stunting Sejak Dini: Ancaman Gizi Kronis yang Bisa Dicegah
Istilah stunting mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Namun, apakah kita benar-benar memahami apa dampaknya dan mengapa kondisi ini perlu dicegah sejak dini?
Stunting atau dikenal juga sebagai tengkes, merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang lama. Anak dengan stunting tidak tumbuh sesuai dengan usianya, yang umumnya ditandai dengan tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Lebih dari sekadar persoalan tinggi badan, stunting mencerminkan masalah gizi dan kesehatan yang serius.
Sering muncul pertanyaan,
“Bukankah tinggi badan juga dipengaruhi oleh faktor genetik?”
Memang benar, faktor genetik memiliki peran. Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengaruh genetik relatif kecil dibandingkan faktor eksternal seperti lingkungan, akses layanan kesehatan, sanitasi, dan kondisi sosial ekonomi. Artinya, stunting bukan kondisi yang tidak bisa diubah. Dengan intervensi yang tepat, stunting dapat dicegah.
Jika tidak ditangani sejak dini, dampak stunting dapat menetap hingga dewasa, bahkan sepanjang hidup. Anak berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, produktivitas rendah, hingga rentan terhadap penyakit tidak menular di masa depan.
Stunting di Jawa Timur: Masalah yang Masih Nyata
Jawa Timur dikenal sebagai provinsi dengan biaya hidup relatif terjangkau dan akses layanan kesehatan yang cukup baik. Namun demikian, angka stunting di beberapa wilayah masih tergolong tinggi. Fakta ini menunjukkan bahwa ketersediaan makanan dan fasilitas kesehatan saja belum cukup untuk menekan angka stunting.
Salah satu faktor utama yang berkontribusi adalah sanitasi lingkungan yang buruk. Menurut Suparlan (dalam Sisninja, 2022), sanitasi mencakup upaya pengelolaan lingkungan fisik, seperti penyediaan jamban, air bersih, dan sistem pembuangan limbah untuk mencegah munculnya penyakit yang dapat menghambat kesehatan dan perkembangan fisik manusia.
Ketika sanitasi tidak memadai, risiko infeksi berulang seperti diare dan cacingan meningkat. Infeksi ini mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga anak tetap mengalami kekurangan gizi meskipun asupan makanannya cukup. Hal ini diperkuat oleh studi Adma Novita dkk. (2022) yang menunjukkan bahwa tingginya angka stunting di Kabupaten Bangkalan berkorelasi dengan kondisi sanitasi yang buruk. Studi lain juga mengungkapkan bahwa sanitasi yang tidak layak memicu infeksi berulang yang berhubungan erat dengan kejadian stunting pada balita (Yohanes Jakri dkk., 2022).
Peran Pendidikan Ibu dalam Pencegahan Stunting
Selain sanitasi, faktor lain yang berperan besar dalam kejadian stunting adalah tingkat pendidikan ibu. Mungkin terdengar sederhana, tetapi berbagai penelitian membuktikan bahwa pendidikan ibu sangat memengaruhi status gizi anak.
Penelitian Yona Septiana dkk. (2023) menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki pengetahuan gizi yang lebih terbatas. Hal ini berdampak pada kurangnya pemahaman mengenai pentingnya protein, ASI eksklusif, serta pemberian MPASI yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak. Ketidaktahuan ini dapat menyebabkan pola makan anak tidak seimbang dan meningkatkan risiko stunting.

Penelitian lain oleh Deden Husniyah dkk. (2020) juga menemukan hubungan signifikan antara pendidikan ibu dan kejadian stunting. Ibu dengan tingkat pendidikan rendah lebih sering memiliki anak yang mengalami stunting dibandingkan ibu dengan pendidikan lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa pendidikan ibu bukan sekadar soal ijazah, tetapi tentang kemampuan memahami informasi kesehatan dan mengambil keputusan yang tepat bagi anak.
Pencegahan Harus Dimulai Sejak Awal
Dari berbagai temuan tersebut, menjadi jelas bahwa pencegahan stunting harus dilakukan sejak sangat dini, bahkan sebelum anak lahir. Langkah pertama yang krusial adalah perbaikan sanitasi lingkungan. Lingkungan yang bersih menurunkan risiko infeksi berulang dan membantu tubuh anak menyerap nutrisi secara optimal. WHO dan UNICEF menegaskan bahwa akses terhadap air bersih dan sanitasi layak memiliki peran penting dalam menurunkan angka stunting.
Langkah berikutnya adalah peningkatan pendidikan dan literasi gizi ibu. Ibu dengan pemahaman gizi yang baik cenderung mampu menerapkan pola asuh dan pola makan yang sesuai bagi anaknya. Pendidikan berfungsi sebagai jembatan antara informasi kesehatan dan praktik sehari-hari yang berdampak langsung pada status gizi anak.

Selain itu, perhatian terhadap gizi ibu selama kehamilan tidak boleh diabaikan. Kekurangan protein, zat besi, dan asam folat pada ibu hamil meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, salah satu faktor awal terjadinya stunting. Oleh karena itu, pemenuhan gizi ibu hamil menjadi bagian penting dari strategi pencegahan stunting.
Peran GLS dan Potensi Tumbuhan Liar Superfood
GLS selama ini menaruh perhatian besar pada isu ketahanan pangan dan gizi berbasis potensi lokal. Dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat, GLS mendorong pemanfaatan tumbuhan liar bernutrisi tinggi (superfood) sebagai sumber pangan alternatif yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat.
Tumbuhan seperti kelor, krokot, dan berbagai tanaman lokal lainnya kaya akan protein, vitamin, mineral, dan zat mikro penting yang dibutuhkan ibu hamil dan anak usia dini. Pemanfaatan tumbuhan liar superfood dapat menjadi strategi pendukung dalam pencegahan stunting, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses pangan bergizi.
Pendekatan ini sejalan dengan upaya peningkatan literasi gizi ibu, karena memperkenalkan sumber nutrisi yang tersedia di sekitar lingkungan tempat tinggal. Dengan pengetahuan yang tepat, keluarga dapat memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus bergantung pada pangan mahal atau produk olahan.
Kesimpulan
Stunting bukanlah masalah tunggal. Kondisi ini merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari sanitasi yang tidak layak, rendahnya pendidikan ibu, hingga tidak optimalnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan hingga anak usia dini. Ketersediaan makanan dan layanan kesehatan saja tidak cukup tanpa lingkungan yang bersih, pengetahuan yang memadai, serta akses terhadap pangan bergizi.
Oleh karena itu, pencegahan stunting harus dilakukan secara terpadu: memperbaiki sanitasi, meningkatkan edukasi ibu, serta mengoptimalkan pemenuhan gizi ibu dan anak. Dengan memanfaatkan potensi pangan lokal seperti tumbuhan liar superfood, upaya pencegahan stunting dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas.
Penulis: Yuro Ida Tri Murti, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung



