GLS & Konsulat Jenderal Australia Dorong Sekolah Sirkular Lewat Program Circular Food Garden

Pada 23 – 24 Oktober 2025, Green Living Support bersama komunitas lokal Lets Grow melaksanakan program Circular Food Garden di SD Negeri Kuripansari, Mojokerto. Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan Direct Aid Program (DAP) dari Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, yang bertujuan memperkuat pendidikan lingkungan dan ketahanan pangan berbasis sekolah.
Dua Hari Belajar dari Kebun, Kandang, dan Dapur Sekolah
Selama dua hari, tim GLS merancang rangkaian kegiatan yang memadukan pembelajaran lingkungan, praktik kebun sirkular, dan pelatihan pengolahan pangan. Pendekatannya berbasis experimental learning, sehingga murid, guru, orang tua, hingga komunitas lokal terlibat langsung dalam prosesnya.
Rangkuman aktivitas utama yang dilakukan adalah pada hari 1 (23 Oktober) yaitu merawat kebun dan mengenal living composter. Peserta belajar cara mengelola kebun sekolah, membuat kompos, serta memahami bagaimana ayam dapat berperan sebagai living composter dari memanen telur hingga memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk. Kegiatan hari pertama ini juga dihadiri oleh Bapak Glen Askew selaku Konsulat Jenderal Australia di Surabaya yang memberikan dukungan dan semangat kepada seluruh peserta.
Aktivitas pada hari 2 (24 Oktober) adalah mengolah hasil kebun jadi pangan bergizi. Pada hari kedua ini, peserta mengikuti workshop pengolahan hasil kebun menjadi makanan sehat, termasuk pembuatan snack bergizi dan menu MBG (Makanan Bergizi Gratis). Anak-anak terlibat langsung dalam proses memasak, mencicipi, dan memahami nilai pangan lokal dari kebun sekolah mereka sendiri. Model dua hari ini sekaligus mendukung keberlanjutan program MBG di SDN Kuripansari dengan menghubungkan kebun, edukasi gizi, dan pemberdayaan orang tua.

Cakupan Kegiatan dan Dampaknya
Program Circular Food Garden memberikan dampak langsung bagi sekolah. Selama kegiatan berlangsung, sekitar 142 dari kelas 1 sampai 6 ikut terlibat aktif dalam praktik berkebun, merawat kandang, dan mengolah hasil panen. Mereka belajar langsung dari pengalaman, bukan hanya dari buku.
Tidak hanya siswa, program ini juga mengikutsertakan 11 pendidik yang nantinya akan menjadi pendamping berkelanjutan kebun sekolah, serta 24 orang tua siswa yang terlibat dalam sesi pelatihan dan pengelolaan kebun. Kehadiran para orang tua dan guru membuat proses belajar menjadi lebih kolaboratif, dan membuka ruang bagi keberlanjutan program di luar dua hari pelaksanaan.

Suara dari GLS dan Mitra
Pendekatan GLS menekankan hubungan langsung antara anak, alam, dan sumber pangan. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Onish Akhsani berikut:
“Kami ingin anak-anak terhubung langsung dengan tanah dan sumber makanan mereka. Cinta lingkungan tumbuh dari pengalaman nyata, sekolah bisa menjadi ruang hidup berkelanjutan, bukan sekedar ruang kelas”
Ibu Onish Akhsani, Founder & Ketua Dewan Penasihat GLS
Dukungan diplomatik juga diberikan oleh pihak Australia. Bapak Glen Askew memberikan dukungannya sebagai berikut:
“Saya berharap program baik ini dapat terus memberikan manfaat dan menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mendorong ketahanan pangan di lingkungan pendidikan.”
Bapak Glen Askew, Konsulat Jenderal Australia di Surabaya
Dari sisi kebijakan dan pemberdayaan komunitas, Bapak Rumayya menambahkan sebagai berikut:
“Model ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, potensi masyarakat akar rumput sangat besar untuk menerapkan solusi lingkungan dan ketahanan pangan.”
Bapak Rumayya, Policy Advisor GLS
Apresiasi dari Sekolah
Program ini mendapatkan respon positif dari pihak SDN Kuripansari. Ibu Masruroh selaku Kepala SDN Kuripansari menyampaikan sebagai berikut:
“Kami sangat terbantu dengan adanya dukungan DAP ini. Anak-anak sekarang paham cara berkebun, merawat ayam, hingga memahami konsep ketahanan pangan. Mereka bangga karena bisa belajar langsung dari lingkungan sekolah mereka sendiri.”
Ibu Masruroh, Kepala SDN Kuripansari
Setiap aktivitas yang dilakukan dirancang berdasarkan prinsip 9R (Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, Replace, Replant, Rot, Rethink) untuk mendorong anak-anak menjadi problem solver lingkungan sejak dini.
Penulis: WP, Tim Green Living Support


