Implementasi Circular Food Garden: Dari Kebun Sekolah Menuju Ruang Belajar yang Hidup

Di tengah tantangan krisis pangan, perubahan iklim, dan meningkatnya persoalan sampah organik, sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer pengetahuan. Sekolah perlu bertransformasi menjadi ruang praktik kehidupan, tempat anak belajar memahami hubungan antara tanah, pangan, dan keberlanjutan.
Konsep Circular Food Garden lahir dari kesadaran tersebut, yang mana bukan sekadar kebun sekolah biasa. CFG adalah ekosistem kecil yang menghubungkan proses menanam, merawat, memanen, mengolah, hingga mengembalikan sisa pangan ke tanah sebagai kompos. Di dalamnya, anak-anak belajar bahwa makanan tidak datang begitu saja dari pasar atau dapur, melainkan dari proses panjang yang membutuhkan tanggung jawab.
Ayam Halaman sebagai Living Composter
Salah satu inovasi menarik dalam implementasi Circular Food Garden adalah pemanfaatan ayam halaman sebagai living composter. Ayam bukan hanya sumber protein atau penghasil telur, tetapi juga bagian dari sistem sirkular.
Sisa dapur dan limbah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami. Kotorannya kemudian diolah menjadi pupuk untuk kebun. Siklus ini menciptakan pembelajaran nyata tentang ekonomi sirkular: tidak ada yang benar-benar menjadi sampah, semuanya kembali menjadi sumber daya.
Pendekatan ini sangat relevan diterapkan di sekolah karena:
- Anak belajar langsung dari pengalaman (experiential learning).
- Sekolah memiliki ruang terbatas namun bisa dimaksimalkan.
- Praktik sederhana bisa berdampak besar bagi ketahanan pangan lokal.
Mengapa Sekolah Penting dalam Transisi Sirkular?
Sekolah adalah fondasi pembentukan karakter. Jika sejak dini anak terbiasa melihat proses menanam dan memahami asal-usul makanan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sadar lingkungan.
Di Jawa Timur sendiri, banyak sekolah memiliki potensi lahan yang bisa dikembangkan. Namun implementasi kebun sirkular membutuhkan pendekatan yang tepat: tidak hanya teknis budidaya, tetapi juga manajemen, keterlibatan guru, dan dukungan orang tua.
Circular Food Garden bukan sekadar proyek berkebun. Ia adalah model pendidikan lingkungan yang terintegrasi dengan:
- Pendidikan karakter
- Ketahanan pangan sekolah
- Pengurangan sampah organik
- Pembelajaran lintas mata pelajaran
Model seperti ini telah diimplementasikan GLS dalam berbagai program pengabdian masyarakat, termasuk di SDN Kuripansari, Mojokerto, melalui pendekatan berbasis kolaborasi komunitas.
Saatnya Belajar Bersama
Untuk memperluas dampak praktik baik ini, Green Living Support mengundang para pendidik, pegiat lingkungan, orang tua, dan komunitas untuk bergabung dalam:

WEBINAR AKSI VOL. 5
Implementasi Circular Food Garden: Perawatan Ayam Halaman sebagai Media Edukasi di Sekolah
Minggu, 15 Februari 2026
19.00 – 21.00 WIB
Gratis
Webinar ini akan menghadirkan:
- Ibu Erli Oktania (Krucil’s Big Garden)
- Ibu Masruroh, Kepala Sekolah SDN Kuripansari
- Dipandu oleh Kak Harliana & Ibu Onish Akhsani (GLS)
Diskusi akan membahas praktik nyata implementasi kebun sirkular dan bagaimana ayam halaman dapat menjadi media edukasi yang efektif di sekolah.
Karena membangun sekolah berdaya tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Terkadang, ia dimulai dari satu kebun kecil dan beberapa ekor ayam yang dirawat bersama.
Registrasi: https://bit.ly/WebinarAksiVol5
Mari bersama membangun sekolah yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menghidupkan nilai keberlanjutan.


