Kerja Bakti: Dari Tradisi Sosial Menjadi Strategi Lingkungan yang Relevan Hari Ini
Di tengah krisis sampah yang kian nyata, kerja bakti kembali menemukan momentumnya. Bukan sekadar tradisi lama yang dihidupkan kembali, tetapi perlahan menjadi strategi lingkungan yang terstruktur, melibatkan negara, pemerintah daerah, kampus, hingga komunitas warga masyarakat.
Dalam beberapa pekan terakhir, berbagai daerah dan institusi di Indonesia secara serentak mendorong kerja bakti sebagai bagian dari upaya serius menangani persoalan sampah. Dari desa hingga kota, dari kampus hingga kantor pemerintahan, kerja bakti kembali hadir sebagai praktik kolektif yang relevan dengan tantangan lingkungan hari ini.
Dari Kebijakan ke Aksi Kolektif
Keseriusan negara terlihat dari arah kebijakan yang semakin tegas. Menteri Dalam Negeri menyatakan akan menerbitkan Surat Edaran yang menginstruksikan kerja bakti atau korve dilakukan secara rutin dua kali dalam sepekan. Arahan ini tidak berhenti di level simbolik, melainkan menyasar pelaksanaan serentak dari tingkat provinsi hingga desa, bahkan melibatkan sekolah dan aparatur kewilayahan.
Langkah ini sejalan dengan kekhawatiran nasional terhadap kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) yang diproyeksikan mengalami kelebihan beban dalam beberapa tahun ke depan. Dalam konteks ini, kerja bakti diposisikan sebagai bagian dari solusi preventif: membersihkan lingkungan, memperlambat laju penumpukan sampah, dan yang terpenting, membangun kesadaran kolektif.
Pemerintah Daerah Menghidupkan Kerja Bakti Terjadwal
Di tingkat daerah, kebijakan tersebut mulai diterjemahkan secara konkret. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, misalnya, menerbitkan Surat Edaran tentang pelaksanaan kerja bakti lingkungan secara terjadwal hingga ke tingkat desa. Kerja bakti tidak lagi dipahami sebagai kegiatan insidental, tetapi sebagai gerakan rutin yang menyasar saluran drainase, area publik, dan titik rawan penumpukan sampah.
Pendekatan ini diperkuat dengan optimalisasi Bank Sampah, TPS 3R, serta penguatan fasilitas pengolahan sampah berbasis komunitas. Tujuannya jelas: agar sampah dapat selesai di lingkungan lokal, tanpa terus membebani TPA. Di sini, kerja bakti menjadi pintu masuk untuk perubahan perilaku, seperti pemilahan sampah dan pengurangan produk sekali pakai.
Pendekatan serupa juga terlihat di Kota Mojokerto. Pemerintah kota menggelar kerja bakti massal secara serentak di seluruh lingkungan permukiman dan kantor pemerintahan. Dengan melibatkan masyarakat, pemerintah, TNI–Polri, dan komunitas, kerja bakti dijalankan melalui pendekatan pentahelix. Pesan yang ingin disampaikan kuat: kebersihan bukan urusan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.
Kerja Bakti di Ruang Pendidikan dan Kampus
Menariknya, semangat kerja bakti juga hidup di ruang pendidikan. Di Universitas Gadjah Mada, Direktorat Kemahasiswaan bersama Forum Komunikasi UKM menginisiasi kerja bakti di lingkungan kampus. Puluhan UKM membersihkan sekretariat dan area aktivitas mereka sendiri, bukan atas dasar kewajiban administratif, tetapi sebagai upaya merawat ruang bersama.
Di sini, kerja bakti tidak hanya berdampak pada kebersihan fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter. Gotong royong, kepedulian terhadap aset bersama, dan tanggung jawab kolektif tumbuh melalui praktik sederhana: membersihkan ruang yang sehari-hari digunakan.
Bagi GLS, praktik seperti ini menunjukkan bahwa kerja bakti dapat menjadi media pendidikan lingkungan yang efektif, terutama bagi generasi muda. Bukan melalui ceramah panjang, tetapi lewat pengalaman langsung.
Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih
Berbagai inisiatif ini memperlihatkan satu benang merah: kerja bakti tidak lagi diposisikan sebagai kegiatan seremonial. Ia bergerak menuju gerakan berkelanjutan, didukung kebijakan, fasilitas, dan partisipasi warga.
Namun, tantangan terbesar tetap berada pada perubahan perilaku. Infrastruktur pengelolaan sampah, seperti depo, TPS, dan TPS 3R, bisa tersedia. Tetapi tanpa kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan, kerja bakti akan terus berulang di titik yang sama.
Di sinilah kerja bakti memiliki peran strategis. Ia bukan solusi tunggal, tetapi alat sosial untuk membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Ketika warga turun langsung membersihkan jalan, saluran air, atau ruang publik, relasi emosional dengan lingkungan pun terbentuk.
Kerja Bakti sebagai Fondasi Transisi Lingkungan
Di tengah krisis iklim, cuaca ekstrem, dan tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah, kerja bakti menawarkan sesuatu yang sering terlupakan: solusi yang murah, inklusif, dan berbasis komunitas. Ia tidak membutuhkan teknologi tinggi, tetapi membutuhkan komitmen dan konsistensi.
Bagi GLS, kerja bakti adalah titik temu antara kebijakan lingkungan dan praktik sehari-hari warga. Ia dapat menjadi fondasi untuk langkah yang lebih jauh: pemilahan sampah, ekonomi sirkular, hingga penguatan komunitas lokal.
Ketika kerja bakti dijalankan secara terjadwal, didukung kebijakan, dan diiringi edukasi, ia tidak lagi sekadar membersihkan lingkungan hari ini. Ia membangun budaya menjaga lingkungan untuk jangka panjang.
Penulis: Wisnu Purnomo, Research & Evidence Manager GLS



