Membangun Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga di Tengah Bencana: Pembelajaran dari Banjir Sumatra dan Riset GLS
Banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra pada akhir 2025 menjadi salah satu bencana hidrometeorologi terbesar dalam satu dekade terakhir. Dampaknya meluas, tidak hanya pada kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga pada terganggunya akses pangan, mata pencaharian, dan stabilitas ekonomi rumah tangga. Dalam banyak kasus, krisis pangan dan kemiskinan muncul hanya dalam hitungan hari setelah akses distribusi terputus.
Situasi ini memperlihatkan bahwa bencana alam tidak berdiri sendiri sebagai peristiwa sesaat. Ia berinteraksi dengan struktur sosial, ekonomi, dan kelembagaan yang telah lama rapuh. Di sinilah pentingnya membaca bencana melalui pendekatan ketahanan ekonomi rumah tangga, sebuah perspektif yang telah dikaji oleh tim riset GLS.
Melalui riset bertajuk Household Economic Resilience to Natural Disasters: A Comparative Analysis of High-Risk and Low-Risk Areas in Indonesia yang telah dipaparkan di gelaran Indonesian Regional Science Association (IRSA) 2025 di Semarang, Jawa Tengah, GLS berupaya memahami mengapa sebagian rumah tangga mampu bertahan dari guncangan bencana, sementara yang lain dengan cepat jatuh ke dalam kemiskinan. Temuan riset ini memberikan kerangka analitis yang relevan untuk membaca kondisi Sumatra hari ini dan merumuskan arah kebijakan ke depan.

Bencana Hidrometeorologi sebagai Risiko Dominan di Indonesia
Data nasional menunjukkan bahwa lebih dari 78% kejadian bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, dengan banjir sebagai jenis yang paling sering terjadi. Dalam konteks Sumatra, banjir tidak lagi dapat dipahami sebagai kejadian ekstrem yang jarang, melainkan sebagai risiko struktural yang terus berulang akibat kombinasi perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan lemahnya tata kelola daerah aliran sungai (DAS).
Riset GLS menemukan bahwa 73,71% rumah tangga Indonesia berada dalam kategori risiko tinggi terhadap banjir, sementara 51,51% berada dalam risiko tinggi terhadap gempa bumi. Lebih lanjut, sekitar 34% rumah tangga menghadapi risiko ganda, yakni banjir dan gempa sekaligus. Kelompok terakhir ini merupakan rumah tangga dengan tingkat kerentanan tertinggi dan perlu menjadi prioritas dalam kebijakan mitigasi bencana.
Dalam konteks banjir Sumatra, angka-angka ini menjelaskan mengapa dampak bencana menyebar begitu cepat dan luas: sebagian besar rumah tangga memang telah hidup di bawah bayang-bayang risiko sebelum bencana terjadi.
Risiko Tinggi, Kemiskinan, dan Daya Beli yang Tertekan
Salah satu kontribusi penting riset GLS adalah menunjukkan keterkaitan kuat antara tingkat risiko bencana dan status kemiskinan rumah tangga. Rumah tangga yang tinggal di wilayah berisiko tinggi, terutama yang menghadapi risiko banjir dan gempa secara bersamaan, menunjukkan tingkat kemiskinan yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah berisiko rendah.
Dalam kelompok risiko ganda, hampir 40% rumah tangga berada dalam kondisi miskin, dengan rata-rata pengeluaran yang lebih rendah dibandingkan kelompok lain. Ini berarti bahwa sebelum bencana pun, rumah tangga tersebut sudah memiliki ruang fiskal yang sangat terbatas. Ketika banjir melanda, mereka tidak memiliki tabungan, aset cair, atau akses alternatif untuk mempertahankan konsumsi.
Fenomena ini tercermin jelas dalam bencana Sumatra. Banyak rumah tangga terdampak melaporkan harus mengurangi frekuensi makan, membatasi porsi, atau sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal. Kondisi ini bukan semata akibat keterlambatan bantuan, tetapi karena daya beli dan ketahanan ekonomi yang telah lemah sejak awal.
Ketahanan Konsumsi: Faktor Penentu Bertahan atau Jatuh
GLS menganalisis ketahanan ekonomi rumah tangga melalui respons konsumsi terhadap bencana, dengan membandingkan wilayah berisiko rendah dan tinggi untuk banjir dan gempa. Hasilnya menunjukkan bahwa ketahanan tidak hanya ditentukan oleh karakteristik rumah tangga, tetapi juga oleh kapasitas komunitas dan institusi lokal.
Beberapa temuan kunci antara lain:
- Ukuran rumah tangga
Rumah tangga dengan anggota yang lebih banyak cenderung mengalami penurunan konsumsi yang lebih besar saat bencana terjadi. Kebutuhan pangan dan kesehatan meningkat, sementara pendapatan justru menurun. - Pendidikan
Proporsi anggota rumah tangga dengan pendidikan menengah ke atas secara konsisten meningkatkan ketahanan konsumsi, terutama di wilayah berisiko tinggi. Pendidikan berperan dalam akses informasi, stabilitas pekerjaan, serta kemampuan mengelola sumber daya saat krisis. - Akses pasar dan logistik
Akses terhadap pasar terdekat dan fasilitas logistik desa terbukti signifikan dalam menjaga konsumsi rumah tangga pasca-bencana. Ketika distribusi nasional terganggu, pasar lokal menjadi penyangga utama ketahanan pangan. - Kesiapsiagaan desa
Desa yang memiliki mekanisme kesiapsiagaan bencana seperti sistem peringatan dini, rencana evakuasi, dan distribusi logistik menunjukkan ketahanan ekonomi rumah tangga yang lebih baik.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa wilayah-wilayah di Sumatra yang terisolasi akibat rusaknya jalan dan jembatan mengalami krisis pangan lebih cepat dibandingkan wilayah dengan akses pasar dan kesiapsiagaan yang lebih baik.
Kemiskinan Pasca-Bencana
Selain pengeluaran, GLS juga mengukur ketahanan melalui probabilitas rumah tangga untuk tidak jatuh ke dalam kemiskinan setelah bencana. Pendekatan ini penting karena pendapatan per kapita sering kali gagal menangkap realitas kerentanan rumah tangga.
Hasil analisis menunjukkan bahwa:
- rumah tangga besar memiliki peluang lebih tinggi untuk jatuh miskin pasca-bencana,
- pekerjaan kepala rumah tangga yang stabil meningkatkan ketahanan secara signifikan,
- kepemilikan rumah dan modal sosial komunitas berperan sebagai penyangga, terutama dalam konteks banjir,
- rumah tangga di wilayah pedesaan lebih rentan dibandingkan perkotaan karena keterbatasan akses informasi dan pasar.
Temuan ini menguatkan argumen bahwa kemiskinan pasca-banjir di Sumatra bukan semata akibat besarnya bencana, tetapi karena ketimpangan struktural yang telah lama ada.
Dari Riset ke Kebijakan
Melalui riset ini, GLS berperan menjembatani data empiris dan kebutuhan kebijakan. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak dapat berhenti pada respons darurat dan bantuan logistik. Tanpa penguatan ketahanan ekonomi rumah tangga, siklus krisis akan terus berulang.
Banjir Sumatra menjadi contoh nyata bagaimana lemahnya ketahanan ekonomi mempercepat transisi dari bencana alam menjadi krisis pangan dan kemiskinan.
Rekomendasi Kebijakan Berbasis Riset GLS
Berdasarkan temuan riset dan pembelajaran dari bencana Sumatra, GLS merekomendasikan beberapa arah kebijakan strategis:
- Integrasi kebijakan kebencanaan dan ketahanan ekonomi rumah tangga
Mitigasi bencana harus secara eksplisit memasukkan indikator ketahanan ekonomi dan risiko kemiskinan. - Penguatan kesiapsiagaan desa dan cadangan pangan lokal
Desa perlu didukung untuk memiliki mekanisme logistik, cadangan pangan, dan sistem distribusi alternatif yang tangguh terhadap bencana. - Peningkatan akses pasar dan infrastruktur dasar di wilayah rawan bencana
Investasi infrastruktur harus difokuskan pada wilayah berisiko tinggi untuk menjaga konektivitas saat krisis. - Pembangunan kapasitas sumber daya manusia
Pendidikan, pelatihan, dan diversifikasi mata pencaharian merupakan strategi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan rumah tangga. - Pendekatan berbasis risiko ganda
Wilayah dengan risiko banjir dan gempa secara bersamaan harus menjadi prioritas utama dalam perencanaan pembangunan dan mitigasi.
Penulis: Wisnu Purnomo, Tim Riset Green Living Support




