Ramadan, HPSN, dan Tantangan Sampah: Saatnya “Puasa” Membuang Sampah
Ramadan selalu identik dengan peningkatan aktivitas konsumsi. Dari sahur hingga berbuka, dari pasar takjil hingga belanja menjelang Lebaran, perputaran makanan dan barang meningkat signifikan. Namun di balik suasana penuh berkah tersebut, ada satu konsekuensi yang jarang kita refleksikan secara mendalam, yaitu lonjakan volume sampah.
Tahun ini, Ramadan bahkan bertepatan dengan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap 21 Februari. Momentum ini menjadi pengingat bahwa ibadah bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang pengendalian diri, termasuk dalam mengelola sampah.
Lonjakan Sampah Saat Ramadan
Fenomena peningkatan sampah selama Ramadan bukan hal baru. Di Samarinda, Dinas Lingkungan Hidup memperkirakan volume sampah meningkat 10–20 persen selama Ramadan, dengan puncak terjadi menjelang Idulfitri dan malam takbiran. Pola ini terjadi hampir setiap tahun, terutama dari sampah rumah tangga akibat aktivitas sahur dan berbuka (DLH Samarinda, 2026).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, DLH bahkan harus menggeser tenaga kerja dan menyiapkan skema darurat agar Tempat Penampungan Sementara (TPS) tidak mengalami kelebihan kapasitas.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai kota lain, termasuk Ternate, di mana DLH membagikan karung sampah gratis kepada pedagang musiman kelapa muda serta melakukan edukasi pemilahan sampah karena volume sampah cenderung meningkat pada awal Ramadan (DLH Kota Ternate, 2026).
Artinya, Ramadan bukan hanya momentum spiritual tetapi juga periode krusial dalam pengelolaan sampah nasional.
“Puasa” Membuang Sampah: Mengendalikan Diri Sejak dari Rumah
Di Mojokerto, Ketua Wahana Edukasi Harapan Semesta (WeHasta), Sisyantoko, mengajak masyarakat menyelaraskan HPSN dan Ramadan dengan gerakan “puasa membuang sampah.”
Yang dimaksud bukan berhenti membuang sampah sama sekali, melainkan meningkatkan pengendalian diri melalui pemilahan dan pengurangan sejak dari rumah.
Menurutnya, pengelolaan sampah paling ideal memang dimulai dari rumah tangga dengan memisahkan:
- Sampah organik
- Sampah non-organik
- Sampah plastik
- Sampah residu
Jika sudah dipilah dari rumah, beban di TPS dan TPA akan jauh berkurang. Bahkan, sampah organik bisa diolah menjadi kompos seperti yang dilakukan di TPS3R Desa Trawas, Mojokerto, yang berhasil mengurangi timbunan sampah secara signifikan (Disway Mojokerto, 2026).
Konsep ini sangat sejalan dengan nilai Ramadan: pengendalian diri, kesadaran, dan tanggung jawab bersama.
Sampah Takjil dan Plastik Sekali Pakai
Pasar Ramadan sering kali menjadi sumber sampah kemasan sekali pakai, misalnya plastik, styrofoam, sendok sekali pakai, hingga kantong belanja.
Tanpa kesadaran kolektif, peningkatan konsumsi ini akan berbanding lurus dengan peningkatan timbunan sampah.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan selama Ramadan antara lain:
- Membawa wadah sendiri saat membeli takjil
- Mengurangi pembelian berlebihan
- Menghabiskan makanan yang sudah dibeli
- Memilah sampah sebelum dibuang
- Mengomposkan sisa makanan
Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten bisa berdampak besar.
Ramadan dan Limbah Tekstil
Lonjakan konsumsi juga terjadi pada sektor fesyen menjelang Idulfitri. Tradisi membeli pakaian baru sering kali meninggalkan limbah tekstil yang tidak sedikit.
Sebagai contoh, platform e-commerce Blibli menghadirkan program “One Step Further” yang mengajak pelanggan mendonasikan pakaian layak pakai untuk mengurangi potensi limbah tekstil sekaligus membantu keluarga prasejahtera (Persikop.id, 2026).
Program seperti ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa berjalan berdampingan dengan semangat berbagi Ramadan.
Ramadan sebagai Momentum Perubahan Perilaku
Sampah pada dasarnya adalah refleksi pola konsumsi kita.
Jika Ramadan adalah bulan untuk melatih kesadaran, maka ia juga bisa menjadi momentum membangun kebiasaan baru:
- Lebih bijak dalam membeli
- Lebih disiplin dalam memilah
- Lebih bertanggung jawab terhadap sisa konsumsi
- Lebih peduli terhadap dampak lingkungan
Karena menjaga kebersihan bukan hanya bagian dari iman, tetapi juga bagian dari keberlanjutan.
Ramadan seharusnya tidak meningkatkan timbunan sampah, melainkan meningkatkan kualitas kesadaran kita.
Mari mulai dari rumah.
Mari mulai dari diri sendiri.
Mari berpuasa dalam membuang sampah.
Penulis: Wisnu Purnomo, Research & Evidence Manager



