Gunung Berapi: Antara Konten Estetik Pendaki dan Realita Warga Lereng
Coba deh scroll FYP TikTok atau Reels kamu sebentar. Pasti cepet banget nemu video pendaki lagi ngopi santai berlatar lautan awan sunrise di gunung. Caption-nya seperti “healing”, “lari dari kenyataan”, atau semacamnya. Memang, gunung-gunung di Indonesia itu cantiknya kebangetan. Bikin siapa aja gampang kepincut.
Tapi sadar nggak sih, di balik romantisasi itu, gunung berapi ya tetap alam liar yang bisa “ngamuk” kapan aja? Buat pendaki, gunung mungkin cuma tempat pelarian weekend. Tapi buat warga yang rumahnya nempel di lereng, gunung itu ibarat tetangga raksasa yang mood-nya harus terus diwaspadain tiap hari.
Bukan Sekadar Background Foto, 6 Gunung Kita Lagi Siaga
Kalau kita buka mata dikit dari sekadar layar HP, realitanya sekarang ada enam gunung berapi di Indonesia yang lagi berstatus Siaga alias Level III. Ini bukan status kaleng-kaleng lho.
Gunung Anak Krakatau baru aja erupsi hebat hari Minggu (6/9/2026) kemaren. Nggak cuma dia, Semeru di Jawa Timur juga ikut bergejolak dan terekam erupsi di Senin paginya. Daftarnya ternyata masih panjang: ada Sinabung di Sumatera Utara, Lewotobi Laki-laki dan Ili Lewotolok di NTT, sampai Gunung Ibu di Maluku Utara. Ini bukti nyata kalau gunung itu lagi “hidup” dan bukan sekadar objek foto estetik.
Bahaya Nyata yang Sering Nggak Kelihatan
Ancaman gunung berapi itu nyata, bukan cuma teori di pelajaran geografi waktu sekolah. Belum lama ini aja, kerasa banget tegangnya waktu dengar kabar dari BNPB soal lima jurnalis yang hilang kontak pas lagi ngeliput Anak Krakatau.
Plt. Kapusdatinkom BNPB, Berton Panjaitan, sampai menekankan banget kalau kawasan vulkanik itu punya ancaman mematikan yang anehnya sering nggak kasat mata. Paling ngeri? Gas beracun. Wujudnya nggak kelihatan, nggak ada baunya, tapi kalau sampai kehirup bisa bikin orang mati lemas di tempat. Belum lagi ancaman batu pijar raksasa yang bisa terlontar ke mana-mana, sampai lahar letusan dari kawah yang bisa nyapu bersih apa aja yang dilewatinya.
Abu Vulkanik Itu Beda Jauh Sama Debu Jalanan
Terus, jangan pernah berfikir kalau abu vulkanik itu rasanya kayak debu jalanan pas musim kemarau. Jauh banget bedanya. Erupsi Anak Krakatau kemaren bikin abunya terbang jauh sampai ke Banten, Jawa Barat, Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
Menurut penjelasan BNPB, abu letusan ini bentuknya mirip pecahan kaca mikroskopis. Coba bayangin, partikel setajam itu kehirup dan masuk ke paru-paru kita. Efeknya bukan cuma bikin batuk biasa, tapi bisa ngelukain kantung udara (alveoli) di paru-paru dan bikin iritasi parah. Mesin pesawat aja bisa mati total kalau kemasukan abu ini, apalagi sistem pernapasan kita yang rentan?
Kesimpulannya? Sadar Posisi.
Ngomongin green living atau peduli lingkungan itu ujung-ujungnya juga soal gimana kita sadar posisi. Kita ini lahir dan hidup di atas Ring of Fire. Nikmatin alam dan bikin konten bagus itu sah-sah aja, tapi jangan sampai kita cuma mau ngambil cantiknya doang dan tutup mata sama realita bencananya.
Alam punya siklusnya sendiri buat me- reset keseimbangannya. Tugas kita cuma satu, yaitu paham mitigasi dan tahu kapan harus mundur, bukan malah nantangin alam.



