GLS secara resmi menutup periode magang Batch 9 (Batch 2 Tahun 2025) yang berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2025. Program magang ini merupakan hasil kerja sama antara GLS dan Program Studi Ilmu Ekonomi, Universitas Airlangga, yang telah berjalan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya penguatan pembelajaran berbasis praktik.
Sebanyak 11 mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga terlibat aktif dalam program magang ini dan ditempatkan pada tiga posisi utama, yaitu Research Assistant, Project Officer, dan Business Development. Selama hampir lima bulan, para peserta magang menjadi bagian dari aktivitas harian GLS dan berkontribusi dalam berbagai agenda kelembagaan.
Ruang Belajar Praktis di Lingkup Kerja Nyata
Program magang GLS dirancang sebagai ruang belajar bersama, di mana mahasiswa tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga terlibat langsung dalam proses berfikir, perencanaan, dan pelaksanaan program. Fokus kegiatan magang disesuaikan dengan masing-masing posisi, mulai dari dukungan riset dan penulisan, pengelolaan kegiatan dan program, hingga pengembangan inisiatif kelembagaan.
Melalui keterlibatan ini, peserta magang mendapatkan pengalaman memahami bagaimana riset, program lapangan, dan kerja kelembagaan saling terhubung dalam upaya mendorong isu keberlanjutan lingkungan, kebijakan publik, dan penguatan komunitas.
Kolaborasi Akademik dan Lembaga
Kerja sama antara GLS dan Program Studi Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga menjadi fondasi penting dalam pelaksanaan magang ini. Kolaborasi ini memungkinkan mahasiswa untuk mengaitkan pembelajaran akademik dengan praktik nyata di lapangan, sekaligus memperkenalkan dinamika kerja di lembaga berbasis riset dan program.
Bagi GLS, kehadiran peserta magang juga menjadi ruang refleksi dan pembelajaran bersama. Perspektif kritis, ide-ide segar, serta semangat belajar para mahasiswa memperkaya diskusi internal dan proses kerja yang berlangsung selama periode magang.
Agenda Penutup dan Perpisahan
Sebagai penanda berakhirnya periode magang, pada 17 Desember 2025 GLS mengadakan agenda perpisahan secara daring melalui Google Meet. Agenda ini menjadi ruang silaturahmi antara tim GLS dan seluruh peserta magang, sekaligus momen refleksi atas proses belajar yang telah dilalui bersama.
Agenda perpisahan ini bukan hanya menjadi penutup administratif, tetapi juga ruang untuk saling mengapresiasi kontribusi, pengalaman, dan pembelajaran yang terbentuk selama masa magang.
Penutup
Berakhirnya periode magang MBKM Batch 9 Tahun 2025 menandai satu fase pembelajaran yang telah dilalui bersama. GLS mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta magang atas dedikasi, komitmen, dan kontribusi yang telah diberikan selama menjalani proses magang.
GLS berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal berharga bagi para mahasiswa dalam melanjutkan perjalanan akademik maupun profesional ke depan, serta tetap membuka ruang kolaborasi di masa mendatang.
Banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatra pada akhir 2025 tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik dan korban jiwa, tetapi juga membuka kembali persoalan yang kerap luput dari perhatian, yaitu mengenai ketahanan pangan dalam situasi bencana. Di tengah klaim ketersediaan stok pangan nasional yang melimpah, banyak masyarakat terdampak justru menghadapi kesulitan paling mendasar, yaitu mengakses makanan.
Pemerintah melalui Perum Bulog dan Kementerian terkait memastikan bahwa cadangan beras nasional berada dalam kondisi aman. Secara nasional, stok beras pemerintah tercatat mencapai jutaan ton dan dinyatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan darurat di wilayah terdampak banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bahkan, pemerintah menyatakan akan menyalurkan pasokan beras hingga beberapa kali lipat dari kebutuhan normal untuk menjamin tidak ada masyarakat yang kekurangan pangan.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok, melainkan sangat bergantung pada akses dan distribusi. Ada stok, tapi kalau akses dan distribusinya terhambat sama saja bohong.
Ketika Wilayah Terisolasi, Pasar Kehabisan Stok
Di sejumlah wilayah seperti Aceh Tengah dan Bener Meriah, banjir dan longsor memutus hampir seluruh akses darat selama berhari-hari. Jalan nasional, jalan provinsi, hingga puluhan ruas jalan kabupaten tidak dapat dilalui. Dalam kondisi ini, pasokan pangan yang sebelumnya mengalir rutin ke pasar-pasar menjadi terhenti total.
Enam hari setelah banjir, stok beras dan bahan pokok di pasar menipis drastis. Warga hanya diperbolehkan membeli beras dalam jumlah sangat terbatas. Di beberapa lokasi, harga pangan melonjak tajam, bahkan memicu keributan antarwarga. Situasi ini diperparah oleh kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), yang membuat distribusi logistik semakin sulit dan mahal.
Kisah-kisah warga yang mengurangi frekuensi makan dari tiga kali menjadi dua kali sehari, atau membatasi porsi agar stok bertahan lebih lama, menjadi gambaran nyata bagaimana krisis pangan muncul bukan karena beras tidak ada, tetapi karena jalur menuju pangan terputus.
Antara Klaim Ketahanan dan Realitas Distribusi
Secara kebijakan, pemerintah telah mengambil langkah darurat dengan mengerahkan distribusi pangan melalui jalur udara dan laut, serta menempatkan cadangan beras di bandara dan pelabuhan strategis. Langkah ini penting dan patut diapresiasi, terutama dalam kondisi darurat.
Namun, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa distribusi pangan masih menghadapi tantangan koordinasi. Bantuan sering kali tiba tidak merata, sementara masyarakat di wilayah yang paling terisolasi harus menunggu lebih lama. Dalam situasi tersebut, bantuan dari relawan, komunitas lokal, dan inisiatif masyarakat sipil kerap menjadi penopang awal bagi warga yang terdampak.
Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara sistem pangan nasional yang kuat di atas kertas dan sistem distribusi yang masih rapuh di lapangan. Ketahanan pangan nasional tidak otomatis menjamin ketahanan pangan masyarakat jika tidak diikuti dengan mekanisme distribusi yang adaptif terhadap kondisi bencana.
Krisis Pangan yang Terjadi di Aceh
Kepemimpinan Pangan di Masa Krisis
Respon pemerintah dalam krisis pangan pasca-banjir juga memunculkan perdebatan publik, terutama terkait pendekatan yang lebih menonjolkan gestur simbolik daripada penguatan sistem. Kehadiran pejabat negara di lokasi bencana tentu penting sebagai bentuk empati dan perhatian. Namun dalam konteks krisis pangan, yang lebih dibutuhkan masyarakat adalah kepastian pasokan, koordinasi lintas lembaga, dan kecepatan distribusi.
Dalam situasi darurat, kepemimpinan pangan tidak diukur dari seberapa dekat pejabat dengan kamera, melainkan dari seberapa efektif sistem yang ia pimpin untuk bekerja. Ketika negara bergerak lebih lambar dibandingkan solidaritas masyarakat sipil, hal ini menjadi sinyal bahwa mekanisme koordinasi dan kesiapsiagaan pangan masih perlu diperbaiki.
Ketahanan Pangan Bukan Sekadar Stok
Bagi GLS, krisis pangan pasca bencana di Sumatra menegaskan satu hal penting, yaitu ketahanan pangan adalah soal sistem, bukan sekadar stok. Ini mencakup kesiapan distribusi, ketahanan infrastruktur, kapasitas pemerintah, dan keterlibatan komunitas lokal.
Bencana hidrometeorologi akan semakin sering terjadi seiring krisis iklim dan degradasi lingkungan. Tanpa perbaikan tata kelola hulu, banjir akan terus berulang, dan krisis pangan akan menjadi siklus tahunan.
Banjir Sumatra mengajarkan kita bahwa pangan tidak pernah berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan kondisi lingkungan, infrastruktur, dan kualitas tata kelola publik. Selama ketahanan pangan hanya dipahami sebagai urusan stok saja, maka masyarakat di wilayah rawan bencana akan terus berada di posisi paling rentan.
Tim Sinagi Papua, Mitra GLS yang ada di Papua Barat Daya sedang Mencari Tumbuhan Liar Superfood
Ketika kita membicarakan superfood, sebagian besar orang langsung membayangkan bahanpangan import, seperti quinoa, chia seed, atau kale yang harganya tidak murah dan sulit ditemukan. Padahal, dalam banyak program pengabdian masyarakat yang dijalankan oleh GLS di berbagai daerah, kami mendapati satu fakta sederhana namun penting yaitu Indonesia memiliki superfood alami yang justru tumbuh liar di sekitar kita.
Sebagian besar tanaman liar ini tidak masuk ke dalam komoditas komersial, bahkan sering dianggap gulma. Namun dari sisi gizi, tanaman-tanaman tersebut menyimpan kandungan nutrisi yang tidak kalah dari superfood modern, mulai dari vitamin alami, mineral, hingga antioksidan yang mendukung kesehatan jangka panjang.
Sudah sejak lama GLS memusatkan perhatian pada edukasi dan pemberdayaan berbasis tumbuhan liar bernutrisi tinggi sebagai strategi mengatasi persoalan gizi, terutama di daerah dengan keterbatasan akses pangan.
Tumbuhan Liar dan Potensi Gizi: Lebih Dekat dari yang Kita Kira
Di setiap lokasi pengmas GLS, pola yang sama selalu muncul yaitu masyarakat sering tidak menyadari bahwa banyak tanaman yang tumbuh bebas di halaman rumah sebenarnya merupakan sumber gizi penting. Dua di antaranya yang paling sering ditemui adalah krokot dan daun kelor.
Pertama adalah krokot. Bagi sebagian orang, krokot hanyalah tanaman yang muncul di sela-sela batu atau pekarangan. Padahal, tanaman ini mengandung omega 3 alami yang tinggi, mineral esensial seperti magnesium dan potassium, dan antioksidan yang membantu dalam melawan radikal bebas.
Di sisi lain, kelor adalah salah satu tanaman yang paling sering digunakan dalam kegiatan GLS karena ketersediaan yang melimpah. Hampir semua bagian tanaman ini bermanfaat, terutama daunnya yang kaya akan vitamin A, C, dan berbagai vitamin B, kalsium, zat besi, dan protein nabati berkualitas tinggi.
Mengapa GLS Mengangkat Superfood Tumbuhan Liar?
Fokus GLS pada tumbuhan liar bukan tanpa alasan. Ada 3 hal utama yang membuat pendekatan ini relevan untuk pembangunan berkelanjutan dan ketahanan pangan:
Murah, mudah diakses, dan bisa diperoleh tanpa biaya Berbeda dengan pangan instan yang harus dibeli, tumbuhan liar tumbuh tanpa campur tangan manusia. Pendekatan ini membantu keluarga dengan ekonomi terbatas mendapatkan sumber gizi harian tanpa pengeluaran tambahan.
Sejalan dengan prinsip kemandirian pangan dan ekologi Kemandirian pangan tidak selalu berarti membangun kebun. Terkadang bisa juga dimulai dari mengenali tanaman yang sudah ada di sekitar rumah. Pendekatan ini juga mengurangi ketergantungan pada pangan impor dan menguatkan hubungan masyarakat dengan alam.
Membangun kembali pengetahuan pangan lokal Banyak tumbuhan liar dahulu menjadi bagian dari pangan tradisional tetapi perlahan menghilang. Dengan memperkenalkan kembali resep, teknik pengolahan, dan khasiat tanaman ini, GLS membantu melestarikan memori pangan yang hampir hilang dari generasi muda.
Superfood Tidak Harus Datang dari Jauh
Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang sering kita lewatkan begitu saja. Ketika kita memahami bahwa sebagian dari superfood terbaik sebenarnya tumbuh tanpa biaya di sekitar kita, paradigma tentang gizi dan pola makan pun bisa berubah.
Melalui berbagai program edukasi, pelatihan, dan pendampingan komunitas, GLS berkomitmen untuk terus mengangkat nilai tumbuhan liar sebagai bagian dari solusi ketahanan pangan. Karena pada akhirnya, pangan bergizi tidak selalu mahal, karena sering kali tumbuh diam-diam di halaman rumah kita sendiri.
Bapak Glen Askew sedang Melihat Circular Food Garden
Pada 23 – 24 Oktober 2025, Green Living Support bersama komunitas lokal Lets Grow melaksanakan program Circular Food Garden di SD Negeri Kuripansari, Mojokerto. Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan Direct Aid Program (DAP) dari Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, yang bertujuan memperkuat pendidikan lingkungan dan ketahanan pangan berbasis sekolah.
Dua Hari Belajar dari Kebun, Kandang, dan Dapur Sekolah
Selama dua hari, tim GLS merancang rangkaian kegiatan yang memadukan pembelajaran lingkungan, praktik kebun sirkular, dan pelatihan pengolahan pangan. Pendekatannya berbasis experimental learning, sehingga murid, guru, orang tua, hingga komunitas lokal terlibat langsung dalam prosesnya.
Rangkuman aktivitas utama yang dilakukan adalah pada hari 1 (23 Oktober) yaitu merawat kebun dan mengenal living composter. Peserta belajar cara mengelola kebun sekolah, membuat kompos, serta memahami bagaimana ayam dapat berperan sebagai living composter dari memanen telur hingga memanfaatkan kotorannya sebagai pupuk. Kegiatan hari pertama ini juga dihadiri oleh Bapak Glen Askew selaku Konsulat Jenderal Australia di Surabaya yang memberikan dukungan dan semangat kepada seluruh peserta.
Aktivitas pada hari 2 (24 Oktober) adalah mengolah hasil kebun jadi pangan bergizi. Pada hari kedua ini, peserta mengikuti workshop pengolahan hasil kebun menjadi makanan sehat, termasuk pembuatan snack bergizi dan menu MBG (Makanan Bergizi Gratis). Anak-anak terlibat langsung dalam proses memasak, mencicipi, dan memahami nilai pangan lokal dari kebun sekolah mereka sendiri. Model dua hari ini sekaligus mendukung keberlanjutan program MBG di SDN Kuripansari dengan menghubungkan kebun, edukasi gizi, dan pemberdayaan orang tua.
Perwakilan Orang Tua Siswa sedang Mendengarkan Materi
Cakupan Kegiatan dan Dampaknya
Program Circular Food Garden memberikan dampak langsung bagi sekolah. Selama kegiatan berlangsung, sekitar 142 dari kelas 1 sampai 6 ikut terlibat aktif dalam praktik berkebun, merawat kandang, dan mengolah hasil panen. Mereka belajar langsung dari pengalaman, bukan hanya dari buku.
Tidak hanya siswa, program ini juga mengikutsertakan 11 pendidik yang nantinya akan menjadi pendamping berkelanjutan kebun sekolah, serta 24 orang tua siswa yang terlibat dalam sesi pelatihan dan pengelolaan kebun. Kehadiran para orang tua dan guru membuat proses belajar menjadi lebih kolaboratif, dan membuka ruang bagi keberlanjutan program di luar dua hari pelaksanaan.
Sesi Foto Bersama
Suara dari GLS dan Mitra
Pendekatan GLS menekankan hubungan langsung antara anak, alam, dan sumber pangan. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Onish Akhsani berikut:
“Kami ingin anak-anak terhubung langsung dengan tanah dan sumber makanan mereka. Cinta lingkungan tumbuh dari pengalaman nyata, sekolah bisa menjadi ruang hidup berkelanjutan, bukan sekedar ruang kelas”
Ibu Onish Akhsani, Founder & Ketua Dewan Penasihat GLS
Dukungan diplomatik juga diberikan oleh pihak Australia. Bapak Glen Askew memberikan dukungannya sebagai berikut:
“Saya berharap program baik ini dapat terus memberikan manfaat dan menjadi contoh bagi sekolah lain dalam mendorong ketahanan pangan di lingkungan pendidikan.”
Bapak Glen Askew, Konsulat Jenderal Australia di Surabaya
Dari sisi kebijakan dan pemberdayaan komunitas, Bapak Rumayya menambahkan sebagai berikut:
“Model ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, potensi masyarakat akar rumput sangat besar untuk menerapkan solusi lingkungan dan ketahanan pangan.”
Bapak Rumayya, Policy Advisor GLS
Apresiasi dari Sekolah
Program ini mendapatkan respon positif dari pihak SDN Kuripansari. Ibu Masruroh selaku Kepala SDN Kuripansari menyampaikan sebagai berikut:
“Kami sangat terbantu dengan adanya dukungan DAP ini. Anak-anak sekarang paham cara berkebun, merawat ayam, hingga memahami konsep ketahanan pangan. Mereka bangga karena bisa belajar langsung dari lingkungan sekolah mereka sendiri.”
Ibu Masruroh, Kepala SDN Kuripansari
Setiap aktivitas yang dilakukan dirancang berdasarkan prinsip 9R (Refuse, Reduce, Reuse, Repair, Recycle, Replace, Replant, Rot, Rethink) untuk mendorong anak-anak menjadi problem solver lingkungan sejak dini.
Pada Sabtu, 22 November 2025, Green Living Support (GLS) bersama New Energy Nexus Indonesia telah sukses menyelenggarakan kegiatan Energy Policy Case Competition (EPCC) dan Energy Policy Workshop (EPW) di Surabaya. Dua kegiatan ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung bagi peserta dalam memahami isu energi serta proses perumusan kebijakan yang relevan dengan tantangan hari ini.
EPCC Jawa Timur 2025: Adu Analisis dan Gagasan Kebijakan Energi
Kegiatan dimulai pada pagi hari di Aula Tirtodiningrat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, dengan sesi presentasi dari lima tim finalis EPCC. Masing-masing tim menyampaikan hasil analisis kebijakan energi yang telah mereka susun, lengkap dengan solusi yang mereka tawarkan. Suasana kompetisi terasa hangat dan penuh antusiasme, dengan setiap tim menunjukan kemampuan terbaiknya dalam merumuskan argumentasi kebijakan yang kuat, jelas, dan terstruktur.
EPW Jawa Timur 2025: Memahami Energi dari Perspektif Kebijakan
Setelah sesi kompetisi, rangkaian acara dilanjutkan dengan EPW yang berlangsung di Milieu Space Surabaya. Workshop ini menghadirkan dua narasumber:
Ibu Setyaningtyas Nur Hidayati, dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur
Kak Nisita Hafia, dari su-re.co (Sustainability & Resilience)
Melalui materi yang disampaikan, peserta mendapatkan gambaran mengenai kondisi energi di Jawa Timur, arah kebijakan yang sedang dikembangkan, serta prinsip-prinsip dasar dalam menyusun kebijakan energi yang baik.
Selain itu, peserta juga mengikuti sesi stakeholder mapping dan roleplay berdasarkan studi kasus yang telah disiapkan. Kegiatan ini membantu peserta memahami bagaimana proses penyusunan kebijakan melibatkan banyak aktor, kepentingan, dan dinamika diskusi di lapangan.
Pengumuman Pemenang EPCC Jawa Timur 2025
Sebagai penutup, acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang EPCC 2025. Berikut hasil lengkapnya:
Juara 1: Tim Estafet Sosial – Institut Teknologi Sepuluh November
Juara 2: Tim Oxygank – Universitas Airlangga
Juara 3: Tim Ramen – Universitas Negeri Surabaya
Juara Harapan 1: Tim SaveCEO – Universitas Airlangga
Juara Harapan 2: Tim Sintesis – Universitas Airlangga
Selamat kepada seluruh pemenang dan finalis yang telah menunjukan dedikasi serta pemikiran terbaiknya. Setiap tim membawa perspektif unik yang memperkaya diskusi seputar energi, khususnya di Jawa Timur.
Penutup
Kolaborasi GLS dan New Energy Nexus Indonesia dalam EPCC dan EPW 2025 menjadi bentuk komitmen bersama untuk mendorong kapasitas generasi muda dalam memahami isu transisi energi dan kebijakan publik. Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak anak muda yang terlibat dan berkontribusi dalam pembangunan energi yang berkelanjutan.
Mengadakan acara selalu menjadi momen yang dinanti, tetapi proses mencari venue sering kali menjadi tantangan yang melelahkan. Bayangkan Anda sedang merencanakan pernikahan, seminar, atau lokakarya. Awalnya, Anda berpikir cukup dengan menghubungi beberapa tempat, menanyakan harga, mengecek fasilitas, dan memastikan ketersediaan. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Anda harus menghubungi banyak penyedia venue satu per satu, menyesuaikan anggaran, membandingkan fasilitas, dan memastikan venue yang dipilih sesuai dengan konsep acara. Belum lagi, jika venue yang diincar ternyata sudah dipesan pada tanggal yang diinginkan, Anda harus memulai pencarian dari awal. Waktu habis, energi terkuras, dan acara pun terancam tertunda hanya karena belum menemukan tempat yang tepat.
Di sinilah Function hadir sebagai solusi. Sebagai platform digital yang menghubungkan pencari venue dengan berbagai pilihan tempat terbaik, Function menawarkan cara yang lebih praktis, cepat, dan transparan dalam menemukan venue impian Anda.
Apa Itu Function?
Function adalah platform digital berbasis kemitraan yang menghubungkan pemilik venue dengan individu atau organisasi yang membutuhkan tempat untuk berbagai acara. Kami bukan pemilik gedung atau hotel, tetapi kami menghadirkan berbagai pilihan venue dengan akses mudah dalam satu platform.
Dengan Function, Anda tidak perlu lagi melakukan pencarian secara manual atau berulang kali menghubungi banyak pihak. Semua informasi yang Anda butuhkan, mulai dari harga, kapasitas, hingga fasilitas tambahan, telah tersedia secara transparan. Dari ruang pertemuan minimalis hingga venue luar ruangan yang estetik, Function menawarkan solusi lengkap agar Anda dapat memilih venue yang sesuai dengan kebutuhan hanya dalam beberapa klik.
Keunggulan Function: Mengapa Harus Pakai Function?
1. Pencarian Super Cepat dan Mudah
Function dirancang untuk menghemat waktu Anda. Dengan fitur pencarian cerdas, Anda bisa menyaring venue berdasarkan:
Lokasi – Di pusat kota atau suasana alam yang lebih tenang.
Kapasitas – Dari pertemuan kecil 10 orang hingga acara besar 500 peserta.
Harga – Sesuai anggaran, tanpa perlu negosiasi panjang.
Fasilitas – Parkir luas, proyektor, katering, dekorasi, dan lainnya.
Tidak perlu lagi menelepon satu per satu atau bolak-balik menanyakan detail. Semua informasi sudah tersedia dengan jelas dalam satu platform.
2. Akses ke Venue Eksklusif dan Beragam
Function tidak hanya menawarkan venue biasa. Kami bekerja sama dengan berbagai mitra eksklusif yang menyediakan tempat unik dan sulit ditemukan di platform lain. Bayangkan mengadakan acara di rumah klasik bernuansa vintage, rooftop dengan pemandangan kota, atau venue luar ruangan yang dikelilingi pepohonan hijau. Selain itu, kami juga memiliki berbagai pilihan ruang modern minimalis yang cocok untuk pertemuan bisnis, seminar, atau pelatihan karyawan.
Apa pun konsep acara Anda, Function memastikan bahwa Anda memiliki akses ke tempat yang tepat. Dengan pilihan venue yang fleksibel, kami melayani berbagai jenis acara, mulai dari pernikahan, seminar, lokakarya, pesta pribadi, hingga acara komunitas.
3. Solusi Lengkap, Tidak Hanya Sewa Venue
Function bukan sekadar platform pencarian venue, tetapi juga solusi lengkap bagi siapa saja yang ingin mengadakan acara tanpa perlu mencari vendor tambahan. Kami menyediakan berbagai layanan tambahan yang akan mempermudah perencanaan acara Anda, seperti:
Dekorasi acara – Ingin konsep rustic, modern, atau minimalis? Semuanya bisa diatur sesuai preferensi Anda.
Katering pilihan – Berbagai menu makanan berkualitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan acara dan anggaran.
Perlengkapan acara – Termasuk sistem suara, proyektor, kursi tambahan, hingga pencahayaan profesional.
Dengan layanan ini, Anda tidak perlu lagi repot mencari vendor satu per satu. Semua kebutuhan acara dapat diselesaikan dalam satu platform, sehingga perencanaan acara menjadi lebih efisien dan terorganisir.
4. Venue Ramah Lingkungan
Function tidak hanya mempermudah pencarian venue, tetapi juga berkomitmen untuk mendukung keberlanjutan. Kami bekerja sama dengan venue yang menerapkan prinsip ramah lingkungan untuk menciptakan pengalaman acara yang lebih bertanggung jawab.
Energi terbarukan – Venue yang mengandalkan panel surya dan sistem hemat listrik.
Ruang hijau terbuka – Venue dengan lebih banyak pepohonan dan area hijau yang nyaman.
Pengelolaan sampah berkelanjutan – Mengurangi penggunaan plastik dan mendukung daur ulang.
Dengan Function, Anda bisa mengadakan acara yang tidak hanya berkesan, tetapi juga lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Cara Menggunakan Function
Menggunakan Function sangat mudah. Ikuti langkah berikut:
Buka website Function – Akses daftar venue lengkap dengan informasi harga dan fasilitas.
Gunakan fitur pencarian – Temukan venue yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Hubungi pemilik venue – Langsung atur detail acara tanpa perantara.
Pesan venue dan selenggarakan acara – Semuanya siap dalam hitungan menit.
Dengan sistem yang intuitif dan transparan, Function memastikan bahwa setiap pengguna dapat menemukan venue yang tepat dengan cara yang lebih sederhana dan efisien.
Siapa yang Cocok Menggunakan Function?
Function dirancang untuk siapa saja yang membutuhkan venue berkualitas dengan proses yang lebih mudah, termasuk:
Calon pengantin – Mencari tempat pernikahan dengan suasana romantis dan dekorasi eksklusif.
Startup dan perusahaan – Ruang pertemuan, seminar, atau pelatihan karyawan yang nyaman dan profesional.
Penyelenggara acara dan komunitas – Venue terbaik untuk acara besar maupun kecil.
Individu dan acara pribadi – Ulang tahun, baby shower, gathering keluarga, dan lainnya.
Apa pun kebutuhan Anda, Function siap membantu Anda menemukan tempat yang sempurna.
Nantikan Peluncuran Function!
Function akan segera hadir untuk menghadirkan pengalaman pencarian venue yang lebih praktis, cepat, dan transparan. Tidak perlu lagi repot mengurus detail satu per satu—cukup gunakan Function dan temukan tempat terbaik untuk acara Anda dalam hitungan menit.
Segera hadir untuk memudahkan setiap perencanaan acara Anda. Nantikan peluncuran resmi Function dan temukan venue impian Anda dengan cara yang lebih mudah!
Penulis: Syams Haka, Tim Media Green Living Support
Bincang Lingkungan Vol. 1 akhirnya diadakan lagi untuk pertama kalinya dalam 2 tahun terakhir! Bincang Lingkungan Vol. 1 telah diadakan secara online melalui platform Zoom Meeting pada Sabtu, 15 Februari 2025. Bincang Lingkungan kali ini mengundang pendiri Eco Chop. Eco Chop adalah sebuah startup kemasan makanan ramah lingkungan yang didirikan oleh Rizky Ahmad Maulana Hamdani, mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Airlangga yang saat ini sedang menyusun skripsi. Eco Chop telah banyak memenangkan penghargaan dan dipamerkan di berbagai event di Indonesia.
Eco Chop tercipta karena kekhawatiran terhadap limbah kemasan makanan konvesional berbahan plastik yang sulit terurai secara alami. Ditambah sistem pilah sampah untuk daur ulang plastik yang masih belum diterapkan di Indonesia. Selain itu, Indonesia menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar ke-8 di dunia. Sedangkan, emisi gas rumah kaca ini (beberapa sumbernya dari limbah sisa makanan, kemasan makanan konvensional, dan pertanian) dapat meningkatkan suhu bumi. Oleh karena itu, Eco Chop berkomitmen menanggulangi perubahan iklim dengan mengurangi emisi gas rumah kaca Indonesia melalui produksi kemasan makanan yang dapat terurai secara alami.
Selama yang kita tahu, industri kuliner telah menggunakan kemasan makanan konvensional dari bahan plastik, seperti styrofoam, kertas minyak, kotak kertas, dan wadah plastik. Penggunaan wadah konvensional ini diminati karena sangat murah. Namun, kemasan konvensional yang tidak didaur ulang, akan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) dan menghasilkan gas rumah kaca yang berkontribusi pada kenaikan suhu rata-rata bumi. Tidak hanya suhu rata-rata, pemanasan global adalah awal dari rantai bencana-bencana ekologis lainnya yang sudah mulai kita alami.
Kemasan makanan konvensional juga berdampak pada kesehatan. Kemasan makanan konvensional melepaskan zat karsinogenik dan BPA (Bisphenol A) yang menyebabkan gangguan hormon. Selain itu, kemasan makanan konvensional juga sulit didaur ulang dan perlu waktu hingga 1 juta tahun untuk terurai secara alami.
Eco Chop hadir sebagai solusi permasalahan-permasalahan lingkungan tersebut. Produk-produk Eco Chop dapat terurai secara alami dalam 1-2 bulan karena berbahan dasar limbah jerami dan ampas tebu yang dibeli dari petani lokal di Probolinggo. Selain menerapkan ekonomi sirkular, Eco Chop juga berkontribusi dalam membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pemberdayaan masyarakat oleh Eco Chop ini adalah untuk memproduksi HiPack, kemasan makanan sekali pakai yang dapat digunakan untuk pribadi, bisnis, dan acara-acara tertentu. Produksi HiPack juga sudah menerapkan sistem automasi dengan menggunakan mesin, yang berarti Eco Chop dapat memproduksi pemesanan dalam jumlah besar.
Produk-produk HiPack dari Eco Chop:
My Plate
My Bowl
My Cup
My Large Box: Wadah dengan 3 sekat
My Small Box: Wadah tanpa sekat
Produk-produk HiPack ini ramah lingkungan karena dapat terurai secara alami, dapat dikompos, telah teruji tahan panas oleh lab, dan tahan air. Produk-produk HiPack juga dipastikan aman untuk kesehatan karena terbuat dari bahan alami. HiPack juga tersertifikasi dan saat ini telah diperjual belikan di pasar.
Bagi kalian yang ingin bertanggung jawab dengan limbah kemasan makanan dan ingin memesan HiPack, dapat menghubungi Eco Chop di nomor +6287814417525.
Bagi yang ingin menyimak Bincang Lingkungan Vol. 1 untuk belajar lebih lanjut tentang kaitan antara limbah kemasan makanan dan perubahan iklim, dapat menonton talkshow-nya dilink berikut: https://www.youtube.com/watch?v=8dn2mHrP8VI
Mari lebih bertanggung jawab dengan limbah kemasan makanan yang kita hasilkan untuk mencegah memperparah perubahan iklim!
Dalam upaya untuk terus memberikan kontribusi positif bagi lingkungan, Green Living Support (GLS) kembali menghadirkan inovasi terbaru melalui produk unggulan mereka, Green Catering. Lebih dari sekadar penyedia makanan, Green Catering membawa misi keberlanjutan dengan menyajikan hidangan lezat yang dikemas dalam kemasan ramah lingkungan.
Mengapa Green Catering?
Permasalahan lingkungan, seperti penumpukan sampah plastik dan pencemaran tanah akibat kemasan sekali pakai, semakin menjadi sorotan global. Banyak acara atau kegiatan yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. Oleh karena itu, Green Catering hadir sebagai solusi nyata untuk mengurangi jejak karbon melalui praktik penyajian makanan yang berkelanjutan. Kemasan yang digunakan oleh Green Catering terbuat dari bahan biodegradable yang mudah terurai dan ramah lingkungan. Ini bukan hanya tentang estetika kemasan yang menarik, tetapi juga komitmen untuk tidak menambah masalah lingkungan. Selain itu, dalam setiap hidangan yang disajikan, Green Catering menggunakan bahan-bahan organik yang bersumber langsung dari petani lokal. Pendekatan ini tidak hanya memastikan makanan yang lebih sehat dan bebas pestisida, tetapi juga membantu meningkatkan kesejahteraan komunitas petani di sekitar kita. Lebih dari itu, Green Catering juga memastikan setiap hidangan diolah dengan standar kualitas tinggi. Proses pengolahan makanan dilakukan dengan teknik yang menjaga kandungan nutrisi tetap utuh, serta meminimalkan limbah dapur. Ini menjadikan Green Catering bukan sekadar penyedia makanan, tetapi juga agen perubahan dalam pola konsumsi masyarakat menuju gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Keunggulan Green Catering dari GLS
Kemasan Ramah Lingkungan: Menggunakan bahan biodegradable dan bebas plastik sekali pakai.
Menu Sehat dan Beragam: Pilihan menu yang beragam, mulai dari makanan tradisional hingga hidangan modern, semuanya diolah dengan teknik yangmenjaga kualitas gizi.
Dukungan terhadap Petani Lokal: Menggunakan hasil panen dari petani lokal untuk mendukung keberlanjutan ekonomi komunitas.
Mendukung Gaya Hidup Berkelanjutan: Cocok untuk acara keluarga, pertemuan bisnis, atau kegiatan komunitas yang peduli pada lingkungan.
Misi di Balik Green Catering
Di balik setiap sajian dari Green Catering, terdapat misi yang lebih besar daripada sekadar penyediaan makanan berkualitas. GLS percaya bahwa perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, salah satunya adalah dengan mengubah cara kita mengonsumsi dan menyajikan makanan. Melalui Green Catering, GLS ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesadaran lingkungan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam memilih layanan katering. Bukan hanya sekadar menyajikan makanan, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya keberlanjutan dan peran setiap individu dalam menjaga bumi. Selain itu, Green Catering juga bertujuan untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan di mana setiap elemen dari pemasok, pelanggan, hingga konsumen akhir memiliki peran aktif dalam menciptakan dampak positif bagi lingkungan. Melalui program ini, GLS berharap dapat menginspirasi lebih banyak komunitas, organisasi, dan individu untuk memilih opsi yang lebih ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap piring makanan yang dihidangkan bukan hanya sekadar hidangan lezat, tetapi juga sebuah pernyataan: bahwa kita peduli, bahwa kita bertindak, dan bahwa kita siap untuk bersama-sama menjaga bumi ini untuk generasi mendatang.
Setiap pilihan yang kita buat memiliki dampak bagi lingkungan. Dengan memilih Green Catering dari Green Living Support, kita tidak hanya menikmati makanan lezat, tetapi juga turut serta dalam gerakan peduli lingkungan. Saatnya kita bersama-sama menciptakan masa depan yang lebih hijau.
Untuk informasi lebih lanjut dan pemesanan, hubungi kami melalui kontak resmi GLS atau kunjungi situs web kami. Bersama, kita bisa membuat perbedaan!
Penulis: Syams Haka, Tim Media Green Living Support
Green Living Support (GLS) bersama PKBM CS-Star kembali menggelar kegiatan edukatif untuk anak-anak, yakni “Green Science Class.” Bertempat di Kebun Bibit Wonorejo, Surabaya, kegiatan ini menggabungkan pembelajaran sains sederhana dengan pesan penting tentang kelestarian lingkungan.
Diadakan pada Minggu, 24 November 2024, acara ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan. Dengan dua sesi utama, yakni menguji kandungan vitamin C pada buah-buahan dan membuat eco enzyme, anak-anak diajak memahami konsep sains sambil memperkenalkan praktik hidup ramah lingkungan.
Sesi 1: Menguji Kandungan Vitamin C pada Buah
Pada sesi pertama, anak-anak diajak untuk memahami apa itu vitamin C, manfaatnya bagi tubuh, serta cara sederhana untuk mengidentifikasi kandungan vitamin C dalam berbagai jenis buah. Metode yang digunakan sangat praktis dan menarik, sehingga anak-anak dapat mempraktikkannya dengan mudah di rumah. Berikut penjelasan dan langkah-langkah detailnya:
Penjelasan Awal
Vitamin C dikenal sebagai salah satu nutrisi penting untuk tubuh, membantu memperkuat sistem kekebalan, mempercepat penyembuhan luka, dan berperan sebagai antioksidan. Dalam sesi ini, anak-anak diajak mengenal sumber alami vitamin C yang mudah ditemukan di sekitar kita, seperti jeruk, lemon, dan buah naga.
Langkah-Langkah Menguji Vitamin C
Persiapan Bahan dan Alat
Gelas plastik atau wadah transparan kecil.
Air bersih.
Betadine (sebagai indikator untuk reaksi kimia).
Buah-buahan yang akan diuji, seperti jeruk, lemon, atau buah naga. Beberapa buah diolah terlebih dahulu dengan diperas hingga menghasilkan cairan.
Tahap Uji Coba
Isi gelas plastik dengan air bersih.
Masukkan cairan buah atau potongan kecil buah yang telah disiapkan ke dalam gelas berisi air.
Tambahkan beberapa tetes Betadine ke dalam campuran tersebut.
Aduk campuran secara perlahan menggunakan sendok plastik.
Mengamati Hasil
Jika larutan dalam gelas berubah warna menjadi bening, itu menunjukkan bahwa buah tersebut mengandung vitamin C.
Jika tidak terjadi perubahan warna atau larutan tetap keruh, artinya kandungan vitamin C dalam buah tersebut sangat rendah atau tidak ada sama sekali.
Setiap anak diberi kesempatan untuk mencoba sendiri, mulai dari memotong buah, mencampurkan bahan, hingga mengaduk dan mengamati hasilnya. Proses ini dirancang untuk memancing rasa penasaran dan semangat belajar mereka terhadap sains, sambil menanamkan pemahaman dasar tentang pentingnya nutrisi dalam menjaga kesehatan tubuh.
Dengan pendekatan yang interaktif dan mudah dipahami, sesi ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus edukatif bagi anak-anak. Mereka tidak hanya mengetahui manfaat vitamin C tetapi juga memahami cara sederhana untuk mengidentifikasinya secara langsung.
Sesi 2: Membuat Eco Enzyme – Fermentasi Ramah Lingkungan
Pada sesi kedua, anak-anak diperkenalkan dengan eco enzyme, cairan serbaguna hasil fermentasi limbah organik. Eco enzyme dapat digunakan untuk pembersih alami, pupuk tanaman, hingga penghilang bau tidak sedap.
Langkah-Langkah Membuat Eco Enzyme
Persiapan:
Potong kecil-kecil kulit buah-buahan seperti jeruk atau apel.
Campurkan air dengan gula merah yang telah diparut (1:10).
Proses:
Masukkan potongan kulit buah ke dalam botol hingga mengisi sepertiga bagian botol.
Tuangkan larutan gula merah ke dalam botol, menyisakan sedikit ruang udara untuk fermentasi.
Tutup rapat, tetapi pastikan botol dibuka sedikit setiap beberapa hari (proses “burping”) untuk melepaskan gas.
Fermentasi:
Simpan botol di tempat yang sejuk dan jauh dari sinar matahari langsung.
Setelah 3 bulan, cairan hasil fermentasi dapat disaring untuk mendapatkan eco enzyme siap pakai.
Melalui proses ini, anak-anak memahami pentingnya daur ulang limbah organik untuk menjaga lingkungan. Mereka juga belajar bahwa eco enzyme tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga multifungsi dan ekonomis.
Menginspirasi Generasi Muda untuk Peduli Lingkungan
Green Science Class Anak membuktikan bahwa edukasi sains bisa dikemas secara kreatif dan menarik. Melalui kegiatan ini, GLS dan PKBM CS-STAR berhasil menanamkan kesadaran lingkungan dan rasa ingin tahu anak-anak terhadap sains. Ikuti terus kegiatan menarik lainnya dari Green Living Support untuk pengalaman belajar yang inspiratif dan bermanfaat. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi GLS.
Tanaman liar sering dianggap sepele, namun menyimpan potensi luar biasa untuk kesehatan dan ketahanan pangan. Pak Anam Masrur, seorang praktisi pertanian permakultur, berbagi pengalaman berharga dengan Kartu Botaniku, sebuah alat edukasi yang mengenalkan manfaat tumbuhan liar lokal.
Pak Anam menekankan bahwa banyak tanaman liar, seperti sirih bumi dan krokot, memiliki nilai gizi tinggi, tetapi sering diabaikan karena kurangnya pemahaman cara mengolahnya. Dengan Kartu Botaniku, ia belajar cara mengolah tanaman tersebut menjadi makanan yang lezat dan bergizi. “Ternyata krokot yang awalnya kurang saya sukai bisa diolah dengan cara yang membuatnya enak,” ujar Pak Anam dengan antusias
Makanan Lokal dan Kesehatan Tubuh
Pak Anam Masrur menyoroti pentingnya tanaman lokal untuk kesehatan dan keberlanjutan. Ia menjelaskan bahwa tanaman liar yang tumbuh di ekosistem tempat tinggal kita memiliki hubungan erat dengan mikrobioma tubuh manusia, membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah penyakit. “Tanaman liar bukan hanya sumber pangan alternatif, tetapi juga bagian penting dari ekosistem yang mendukung keberlanjutan hidup kita,” ujarnya.
Kartu Botaniku, sebuah inovasi edukatif, memperkenalkan potensi tanaman liar sebagai solusi untuk ketahanan pangan berbasis lokal. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, kita dapat mengurangi ketergantungan pada impor, menjaga keseimbangan lingkungan, dan meningkatkan akses pada makanan sehat. Pak Anam berharap inovasi seperti ini mampu menginspirasi masyarakat untuk mengenal dan memanfaatkan kekayaan alam di sekitar mereka. “Tanaman liar adalah solusi nyata untuk pangan yang sehat, bergizi, dan ramah lingkungan,” tutupnya.
Penulis: Syams Haka, Tim Media Green Living Support