Bukan Hutan Tropis, Pahlawan Karbon Terbesar Indonesia Ternyata Sering Terinjak di Pantai!
Kalau ngomongin soal pahlawan penyerap karbon, apa sih yang pertama kali terlintas di pikiranmu? Pasti langsung kebayang rimbunnya hutan tropis di Kalimantan, Papua, atau bahkan pepohonan rimbun di hutan kota. Nggak salah sih, tapi tahukah kamu kalau penyerap karbon paling super di Bumi ini malah nggak kelihatan karena ada di bawah air laut?
Bukan, bukan terumbu karang yang warna-warni itu. Jawabannya adalah padang lamun (seagrass)!
Di bawah permukaan air pesisir yang tenang, seperti di Bintan, Kepulauan Riau, ada hamparan hijau luas yang bergoyang lembut ngikutin arus laut. Meski sering dianggap “anak tiri” gara-gara kalah tenar dibanding mangrove atau terumbu karang, jangan biarkan penampilannya yang simple ini menipumu.
35 Kali Lebih Cepat Menyerap Karbon dari Hutan Tropis!
Beda banget lho lamun (seagrass) sama rumput laut (seaweed). Kalau rumput laut itu masuk golongan alga, lamun adalah tumbuhan berbunga sejati yang hidup sepenuhnya di dalam air laut. Dia punya akar, batang, daun, sampai bunga dan buah.
Nah, senjata rahasia lamun dalam melawan krisis iklim ini luar biasa mind-blowing. Menurut laporan dari United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2020 bertajuk “Out of the Blue: The Value of Seagrasses to the Environment and to People”, padang lamun bisa menyimpan karbon hingga 35 kali lebih cepat dibandingkan hutan hujan tropis! Lamun bahkan disebut punya kemampuan luar biasa menangkap dan menyimpan hingga 55% karbon atmosfer.
Cara kerjanya unik banget. Lamun nggak cuma nyimpen karbon di bagian daunnya aja. Akar dan rimpangnya (rhizoma) yang kuat itu mencengkeram dasar laut dan memerangkap partikel kaya karbon langsung ke dalam sedimen tanah di dasar laut. Karbon yang terkunci di sana (blue carbon) nggak main-main, bisa tersimpan dengan aman selama ribuan tahun asalkan ekosistemnya nggak dirusak.
Harta Karun Raksasa di Laut Indonesia
Sebagai negara kepulauan, bersyukurlah kita karena Indonesia jadi rumah buat salah satu hamparan lamun terluas di dunia. Data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) nyebutin luas padang lamun tervalidasi kita mencapai 29.464 hektare, dengan estimasi potensi yang bisa tembus sampai 875.967 hektare!
Nggak cuma buat nyelamatin iklim, padang lamun ini adalah lumbung pangannya para nelayan. Ekosistem lamun adalah tempat bertelur dan berkembang biak (nursery ground) buat ikan-ikan komersial, udang, sampai kepiting rajungan yang jadi komoditas ekspor andalan kita. Nelayan tradisional udah paham banget: kalau lamunnya hilang, ikan dan kepiting bakal minggat.
Bahkan, lamun itu satu-satunya sumber makanan buat Dugong si mamalia laut yang lucu. Di tempat kayak Raja Ampat dan Alor, padang lamun yang sehat sukses jadi magnet wisata premium mancanegara yang mau healing sambil ngelihat Dugong berenang bebas.
Terancam Punah di Rumah Sendiri
Sayangnya, nasib “pahlawan karbon” ini lagi di ujung tanduk. Banyak padang lamun di pesisir Indonesia kondisinya kurang sehat.
Penyebabnya? Ulah manusia sendiri. Proyek reklamasi pantai sering kali dengan gampangnya menimbun habitat asli mereka. Terus, air yang keruh gara-gara polusi limbah rumah tangga bikin cahaya matahari nggak bisa nembus ke dalam laut, padahal lamun butuh banget matahari buat fotosintesis. Belum lagi praktik perikanan bar-bar kayak pukat harimau yang nyapu bersih dasar laut tanpa sisa.
Untungnya, pemerintah udah mulai menjadikan perlindungan padang lamun sebagai prioritas utama tata ruang laut, didukung juga sama komunitas adat lokal yang terbukti sukses ngelola Kawasan Konservasi di Maluku dan Papua.
Saatnya Kita Lebih Aware
Jadi, mulai sekarang, kalau kamu lagi liburan ke pantai, perhatiin deh kalau ada “rumput” hijau yang tumbuh di dasar laut dangkal. Jangan ngerasa risi dan menganggapnya kotoran laut yang mengganggu estetik fotomu. Rumput yang sering nggak sengaja keinjak itu nyatanya lagi berjuang nahan suhu bumi biar kamu nggak kepanasan di darat!
Jangan buang sampah sembarangan di pantai, ya. Karena merawat laut itu sama artinya dengan memberikan napas panjang buat masa depan kita sendiri.
Penulis: Tim Redaksi Green Living Support



