Kabut Asap Kalimantan: Saat Bernapas Saja Butuh Perjuangan Ekstra
Coba bayangin sebentar, kamu bangun pagi, niatnya buka jendela buat ngerasain udara segar, tapi yang masuk ke kamar malah kepulan asap pekat yang bikin mata perih dan napas sesak. Buat kita yang tinggal jauh dari lokasi, mungkin cuma bisa geleng-geleng kepala pas lihat beritanya di TV atau medsos. Tapi buat saudara-saudara kita di Kalimantan, ini adalah realita pahit yang harus mereka hadapi sehari-hari saat musibah karhutla (kebakaran hutan dan lahan) melanda.
Banyak yang mikir, “Oh, ini kan emang cuacanya lagi kemarau, wajar dong kalau hutan gampang terbakar.” Tapi, benarkah murni cuma karena faktor alam? Yuk, kita bedah bareng-bareng.
Buka Lahan Jalur Instan yang Makan Korban
Kalau kita lihat fakta di lapangan, ternyata kebakaran ini nggak selalu terjadi secara alami. Baru-baru ini, pihak kepolisian (Bareskrim Polri) sudah menetapkan 9 korporasi di bidang kelapa sawit dan 223 orang perorangan sebagai tersangka kasus karhutla.
Kenapa mereka nekat membakar lahan? Alasannya miris banget, yaitu karena membakar itu adalah cara paling murah, gampang, dan efektif buat buka lahan baru. Pola pikir “jalur instan” demi untung cepat inilah yang akhirnya mengorbankan puluhan ribu hektar lahan dan memaksa jutaan orang menghirup udara beracun. Ini bukan lagi sekadar bencana alam, tapi dampak dari keserakahan yang merugikan banyak pihak.
Perjuangan Melawan “Lubang Neraka” di Lahan Gambut
Di lapangan, kondisinya nggak kalah bikin ngilu. Kebakaran parah melanda Taman Nasional Tanjung Puting. Api yang membakar lahan gambut itu saking susahnya dipadamkan sampai sering dijuluki “lubang neraka”.
Beda sama kebakaran di tanah biasa, api di lahan gambut itu menjalar di bawah permukaan tanah. Di atasnya kelihatan udah padam, tapi di bawahnya masih membara dan terus ngeluarin asap pekat. Saking beratnya medan dan terbatasnya jarak pandang, beberapa relawan dari komunitas peduli lingkungan sampai kewalahan dan terpaksa menarik diri karena kelelahan luar biasa.
Realita Warga Lokal: Tembus Asap Pekat Demi Pergi Sekolah
Sementara api masih berusaha dipadamkan, warga lokal yang langsung kena getahnya. Di kawasan Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kabut asap bikin jarak pandang di jalan raya hancur-hancuran. Warga terpaksa nyetir pelan-pelan di kecepatan 30 km/jam sambil nyalain lampu di siang bolong biar nggak tabrakan sama kendaraan lain.
Yang bikin paling sedih, di tengah kondisi udara yang pekat ini, anak-anak masih harus berangkat sekolah menembus kepulan asap. Bayangin aja, masker setebal apa pun rasanya nggak akan cukup kuat buat benar-benar nyaring partikel asap mikroskopis yang dihirup anak-anak kita tiap hari. Sampai-sampai, banyak figur publik yang ikut geram dan sedih melihat betapa lambatnya kabut asap ini berlalu, apalagi dampaknya sampai mengancam kesehatan anak-anak.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kasus karhutla di Kalimantan ini jadi tamparan keras buat kita semua. Gaya hidup green living ternyata nggak cuma berhenti di kebiasaan bawa tumbler atau pakai tas belanja dari kain aja. Lebih dari itu, green living adalah soal empati dan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama.
Kita harus terus mendukung upaya pelestarian alam dan menolak praktik-praktik eksploitasi lingkungan yang merugikan. Jangan sampai kita menormalisasi karhutla sebagai “bencana musiman” belaka. Karena sejatinya, udara bersih itu adalah hak dasar setiap makhluk hidup, bukan barang mewah yang cuma bisa dinikmati pas lagi nggak musim kemarau.
Penulis: Tim Redaksi Green Living Support



